Thursday, September 07, 2017

(Travelling Mom) Reuni Perak Yang Penuh Pelajaran Hidup










Sekitar 50 persen alumni FH Unsri  angkatan 92
bertemu dengan Dekan serta staff nya


Ini bisa jadi, ini adalah tulisan paling telat yang pernah kulakukan. Reuninya kapan, nulis di blognya juga kapan? Hehehe..

But... like wise man say... Better late than never..:)

Baiklah, meski sudah lama banget, kisah ini tertoreh dalam sejarah kehidupanku....*uhuk uhuk,.... tak ada salahnya kucoba mengenang kembali, cerita di awal tahun 2017 ini. (dibaca : Buka diary dulu)... hehehe..

Keinginan menyelenggarakan Reuni Perak ini, sudah lama mengaung di kalangan temen-temen seangkatan kuliah s1 ku. tepatnya 1-1,5 tahun lalu. Bahkan groupnya sudah dibuat, panitia (meski sempat bongkar pasang, hingga detik terakhir, akhirnya mereka yang rela berkorban secara mentallah yang menjadi panitia, dan juga materi. Terima kasih buat rombongan panitia yang termutakhir dari acara ini). 

Sempat mengalami satu fase, dimana nyaris ada pertanyaan, ini reuni jadi apa nggak ya? Biasalah, kalau udah kadung "senang banget"di awal semangat reuni, ujung-ujungnya udah kayak antiklimaks. Aku termasuk beruntung memiliki beberapa teman, yang masih komitmen dengan niat kuat Reuni. Ini soalnya hanya terjadi sekali seumur hidup. :D

Aku pribadi, sudah sejak setahun lalu menyiapkan dana pribadi untuk kebutuhan ini. Gimana tidak? Tipe Imamku adalah tipikal dimana ada istri, di situ anak dan suami kumpul. Hahaha.. Makanya, mau pulang kampung, gak serta merta berangkat begitu saja. Pertimbangan tiket pesawat dan hotel juga harus dipikirkan matang-matang. Meski ada rumah mama dan adek-adek di Palembang, tetap aku harus menggunakan fasilitas hotel, agar memudahkan segala kegiatan, yang insyaAllah dilaksanakan dalam waktu 2 hari 1 malam tersebut. 

Singkat cerita, aku sempat terpikir nyaris batal ke Palembang, karena tau-tau, suami mendapat tugas ke Beijing dan Tianjin beberapa hari sebelum keberangkatan ke Palembang. Wiiih... itu artinya, jika diijinkan suami, maka aku, mama dan anak-anak, kudu ke Palembang tanpa dia. Nanti pulang dari Beijing, dia langsung ke Palembang. Akhirnya, gitu dealnya.

Weleh... bayangin bawa mama dan dua anak aktif ke airport yang aku belum datangi (terminal 3 Soeta adalah lokasi baru buatku. Biasanya kami ke terminal 2). 
Namun, udah mendapat ijin pulang untuk reuni, ada dana untuk itu dan kesehatan yang mumpuni, membuatku tak mundur lagi. 

Palembang... here we come!

Aku terharu sekali saat menginjakkan kaki ke kampus ini lagi
terakhir aku ke sini, tahun 2010
mengurus pengunduran diriku sebagai dosen


Reuni, Day One,  25 Maret 2017

Sebenarnya, sebelum Reuni pagi itu, malam harinya, Patris, salah seorang temanku yang berprofesi Jaksa, mengundang sebagian teman-teman yang datang dari luar kota untuk ikut makan malam di Restoran Beringin. Makan malam di sini artinya, makan pempek dan variannya sepuasnya. :)

Alhamdulillah... aku suka berjumpa teman-teman yang sebagian hanya kusapa di dunia maya 10 tahun terakhir ini. Meski tak menikmati suara musik dangdut yang distel di restoran tersebut, dan juga gak tertarik untuk jogat-joget, namun aku benar-benar menyukai makanan, traktiran dan jumpa teman-teman lamanya :) 


Karangan Bunga  Reuni Perak 

Anak-anak kutitipkan pada adekku Dhika dan Endi. Alhamdulillah, mereka sudah terbiasa menjadi "baby sitter" kagetan bagi kedua anakku yang gak bisa diem itu. :) 

Gak lupa narsis depan gedung baru
FH Bukit Besar

Pagi harinya, anak-anak dijaga lagi oleh Bundi dan Padeknya. Aku pribadi, bersama teman-teman yang menginap di hotel Santika Palembang, berangkat dengan Bus yang sudah disiapkan panitia, menuju Kampus Fakultas Hukum di Bukit Besar Palembang. 

Jangan lupa baca juga : 
Menikmati Fasilitas Hotel Santika Palembang 

Its so exciting...

Aku duduk di sebelah Renni. Salah seorang pengacara ternama di kawasan Riau sana (atau Kepri?) aku lupa. Hehehe... Dulu kuliah kami beda jurusan. Tapi, sering ngobrol juga tentang hal-hal sepele. :) 

Di Kampus Bukit Besar, diadakan acara temu kangen dengan Dekan (Doktor Febrian, aku biasa manggil beliau Om Fran, karena dulu, pernah jadi pelatih Volley di belakang rumah, saat aku masih SD hingga SMP, hahaha). Juga bertemu para staf dan dosen lainnya. 

Aku sempat terharu. Cecep (Doktor Syaifuddin), temanku dari s1 dan juga s3 (dia selesai, sementara aku nggak ... *ups), menggodaku dengan kalimat..."Kenapa Dian? Nangis? Jangan Nangis, nanti aku ikutan nangis!"

Aku tak bisa menutupi rasa rinduku pada kampus itu. Kuusap airmata dan senyum malu, saat ketahuan oleh teman, kalau aku menangis.

Sejak tahun 1992 aku kuliah, dan tahun 1997 akhir, aku mengabdi menjadi dosen di sana. Cecep adalah salah seorang teman baikku selama jadi dosen. Bisa jadi, dia hanya menggodaku, tapi bisa jadi, ia memang kehilangan salah satu koleganya. Wallahualam. Kadang dengan dia ini, aku harus memastikan, kapan ia serius, dan kapan ia becanda... :) 

Silaturahim dengan Dekan dan para staf, berlangsung seru. Ada acara makan-makannya, dan yang bikin seru itu, kembali menikmati beberapa jenis makanan khas Palembang, mulai dari pindang, sambalnya yang khas hingga cemilannya. :) Alhamdulillah.


Mejeng cakep di depan Kampus Fak Hukum
Universitas Sriwijaya - Inderalaya 

Dari kampus Bukit Besar, kami kembali ke bus dan bersiap menikmati perjalanan sekitar 1 jam lebih ke kawasan kampus Inderalaya. Jadi bagi yang belum pernah ke Universitas Sriwijaya, perlu diketahui, jika kampus terbagi dua, satu di kota Palembang, adalah kampus lama, sebagian digunakan untuk S2, S3 dan kelas sore, sementara di Inderalaya (kisaran 32 km dari kota Palembang), adalah kampus yang lebih dari 20 tahun lalu mulai digunakan, untuk seluruh kegiatan civitas akademika S1 seluruh fakultas dan kejuruan. 

Kampus FH di Inderalaya, sudah pasti tutup. Karena Sabtu dan Minggu tidak ada kegiatan apapun. Kami hanya menikmati situasi dan kondisinya, sambil makan-makan. Juga bernostalgia dengan masa-masa susahnya kami dulu. 

Tidak seperti sekarang, dimana fasilitas pemondokan, kantin, perlengkapan belajar mengajar yang modern, serta transportasi yang mumpuni... kami dulu mengalami fase khawatir ngekost dekat kampus Inderalaya, karena sepinya minta ampun. Juga sulitnya transportasi, sehingga kami harus berjalan kaki berkilo-kilo meter, sebelum akhirnya ngompreng kendaraan yang lewat menuju Palembang. Subhanallah kalau ingat perjuangan naik bus ke Inderalaya yang seperti mengantar nyawa, karena berebut dan sedikitnya bus ke sana. Sudah biasa yang namanya baju sobek, tas kuliah koyak dan jatuh dari bus saat berdesakan mau masuk bus. 20an tahun lalu, semua itu membuat kami bermental baja. Sehingga saat mencari pekerjaan kami tak pernah komplain lagi dengan kondisi transportasi.

Sungguh, apa yang pahit di masa lalu itu, menjadi manis di masa sekarang. Saat menyaksikan betapa semua kesulitan masa lalu, terbayar dengan kenyamanan yang didapat sebagian besar alumni dalam mendapatkan dan menjalankan pekerjaan masing-masing. Aku menghela napas bersyukur atas pengalaman itu. 

Di belakang kami, seberang jalan dari kampus FH adalah
sebuah mushola fakultas. Yang kemarin direncanakan akan direnovasi.
Wallahualam
Kami juga menyempatkan keliling kampus, dan mejeng di logo Unsri yang kabarnya dibuat khusus, agar instagramable atau apalah-apalah. heheheh

Jangan tanya panasnya cuaca ya
Demi narsis di sini, kita bertahan lho beberapa waktu  hehehe

Menjelang ashar, kami pun kembali ke kota Palembang. Aku pribadi kembali ke kamar hotel. Tak lama setelah magrib, aku bersiap untuk mengikuti Dinner alias makan malam dan ramah tamah. Agendanya sih katanya selain makan, juga membentuk organisasi alumni FH Unsri angkatan 92 gitu. 

Kegiatan berlangsung selesai magrib hingga jam 11 malam 

Foto terakhir sebelum penutupan acara.
I love this moment so much
Thank u the commite for such lovely event.. 

Terus terang, gregetnya agak menurun saat acara makan malam ini. Model meja makan yang bunder, serta posisinya yang agak berjauhan, justru membuat kurang akrab situasinya. 

Anyway... aku nggak mau komplain apa-apa ah!. Kerja kerja panitia, apalagi sudah banyak hambatan dan tantangan sebelum acara ini dibuat, membuatku mensyukuri acara ini tetap berlangsung. Acaranya kurang lebih terdiri atas kegiatan ramah tamah, MC nya lumayan kocak, pembentukan organisasi alumni dan  ada makan-makannya donk! (sayangnya aku sedang tidak terlalu lapar, entah karena terlalu happy, atau mikirin suami udah sampe apa belum dari Beijing). Hahahha. Anak-anak memang kutitipkan lagi dengan Bundi dan Padeknya, sembari menunggu Ayah mereka pulang dari Beijing. 

Foto para anggota organisasi bersama dosen FH yang hadir malam itu
ada Doktor Firman Muntaqo dan Prof Dok. Abdullah Goffar

Acara juga ditutup dengan pembentukan ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara angkatan 92. Ada Arief Nurdin sebagai ketua, Doktor Cecep sebagai Wakil, Zaldi sebagai sekretaris dan Anna Elza sebagai bendahara. Semoga apa yang sudah diniatkan, dan direncanakan hingga masuk ke dalam koran Sumsel, bisa diaplikasikan ya pak dan bu sekalian. Amiiin. 

Anyway, untuk acara dinner ini, kushare foto-fotonya aja ya. Jangan lupa dibaca captionnya :) 


Perempuan yang hadir duluan
Ki-ka : Yusmarlina, Meriyati, Renny, Anna, Samsi, Yenny dan aku


Bergaya sebelum acara dimulai
Ki-ka : Samsi, Aku, Taufik, Djoni, Alex, Bangsali, Umar, Yunita, Yenny

Say hai....:) 

Ini mataku berlinang air... bertahun gak ketemu sahabatku Lily
ki-ka : Vina, Leni, Lili, Aku dan Beka 

This woman is one of the kind
Erni Liliani. I love her story of life.
Sekarang menjadi jaksa di Sumsel :) 


Masih sempat narsis sebelum pulang
ki-ka : Anto, Imelda, Marfis, Umar, Beka, Anna, Ita, aku, Ascho dan Efran 

Weits...
kejadian langka nih,  bisa foto bareng kacab BRI Bantul :) 


Terima kasih buat Amri Andie, yang senang mendapatkan door prize dua bukuku ini
Semoga bermanfaat ya Amri :) 


Reuni, Day Two, 26 Maret 2017

Sebagian teman-teman dari luar kota, sudah kembali ke daerah masing-masing. Tapi beberapa tetap bertahan mengikuti acara reuni hari ke dua. Yakni jalan-jalan pakai kapal menelusuri sungai Musi dan ke pulau Kemaro.

Jangan diketawain ya... seumur hidup, lahir dan tua di Palembang hingga tahun 2004, ini adalah kali pertama buatku menginjakkan kaki ke Pulau Kemaro. Anak-anak tadinya mau ikut, tapi dengar pake kapal, si Sulungku menolak. Akhirnya mereka bersenang-senang dengan ayah mereka yang alhamdulillah, sampai dengan selamat semalam di hotel :) 

Pagi itu, aku tidak sarapan di hotel seperti kemarin. Desi Arisanti, sahabatku, "menculik" ku dan mengajak makan makanan khas Palembang di sebuah kawasan yang juga pertama kali kudatangi. Sejenis lorong "pajohan" atau lorong yang dipenuhi pedagang makanan khas Palembang. 

Aku bener-bener takjub. Kami sempat ke pasarnya dan belanja pempek panggang untuk oleh-oleh temen-temen di kapal "pesiar" nanti. Yup! Desi tidak bisa ikutan kegiatan reuni, jadilah ia hanya temu kangen sejenak bareng temen-temen lainnya, lalu say bye-bye. :)

Tipikal Desi banget! :) 

Foto bareng Desi Bebek *tengah
ini karena sulitnya mengajak sahabatku ini ikutan acara ini.
Bentrok dengan kegiatannya yang full sebagai notaris dan ibu satu anak
ikutan mejeng : Bangsali, Lili dan Bayu

Apa saja kegiatan kami selama di kapal menjelang ke Pulau Kemaro?
Selain ngobrol dan silaturahim, juga ada makan-makannya (lagi) dan nyanyi-nyanyi. Aku surprise banget ternyata Firmansyah yang biasa kami panggil si Awak dan istrinya Chia (juga alumni FH 92) ini ternyata gape nyanyi berdua. MasyaAllah suaranya merdu pula. hehehe. 
Meski sedikit agak pusing, karena arus sungai yang membuat kapal agak bergoyang, kucoba menikmati situasi yang ada. Minimal memperhatikan sikap tindak dan tingkah laku teman-temanku. *ini efek jelek jadi penulis. Semuanya kuperhatikan sampe detail-detail. hahaha

Si Awak memimpin lagu. Aku lupa ini pas kapan ya? Setelah atau sebelum ke pulau kemaro?

Ini di lantai 2 kapal
tempat temen-temen yang demen ngebulin asep. :) 


Foto bareng salah satu panitia inti. Rominal Zaldi, atau aku biasa panggil Zaldi
diapit oleh aku, Leni dan Ita :) 
Kegiatan selanjutnya setelah narsis di kapal, tentu saja berlanjut dengan foto-foto di pulau kemaro.

Aku menyesalkan kondisi pulau yang tidak maksimal dimanfaatkan untuk kegiatan wisata. Meski di sana ada klenteng terbesar di Palembang, tapi tetap saja, situasinya kotor dan tidak mendukung kenyamanan para wisatawan.
Sayang banget ya? Tapi apa mau dikata. Ini kabarnya, jauh lebih baik daripada 20 tahun lalu. hehehe

Ini sesaat sampai di pulau Kemaro
Minta tolong temen, fotoin berdua Ita dengan latar kisah Legenda Pulau Kemaro

Ini mah minta ampun deh para emak-emak :) 

Narsis lagi ... 

dan lagi
coba aku inget-inget dari ki-ka siapa aja ya
Ada Yusmarlina, Anita Sani, Andi Masniar, Renny, Anna, Lenny, Dini, Elvy, Vera, Vina
lalu Lili, Ita, Aku, Samsi, dan siapa dua ini ya... Yenny sama siapa ya? Beka mungkin ya?
Kacamata hitamnya membuatku agak susah mengingat...:) 


Alhamdulillah, kunjungan ini mengesankan sekali. Tidak sia-sia, aku menabung, merayu suami dan adik-adik agar mau menjaga anak-anak. Benar-benar me time yang menyegarkan sekaligus meninggalkan banyak kesan menarik di kepalaku.

Iya, tanpa sadar, banyak kejadian, kelakuan, peristiwa, omongan dan semua hal yang ada di sekitarku yang terekam, kutuliskan sebagian di diary, sebagian kusimpan dalam hati, dan sisanya kujadikan pelajaran hidup.

Banyak hal yang bisa aku dapatkan selama reuni. Tentang arogansi, tentang tawadu, tentang kerendahan hati, tentang kembalinya kisah lama, atau munculnya kisah baru, tentang komitmen, dan berhamburan ide-ide di kepala. Tapi entah mengapa, kutahan saja di sini. Di hati, kepala dan jiwa. Mungkin suatu hari, jika ada keinginan, satu momen, akan kutuliskan menjadi sebuah novel. Tentang sebuah karakter, atau banyak karakter baru, ataupun lama, yang kujumpai selama reuni.

Oh well... 

Apa yang bisa kau salahkan pada diri seorang penulis saat reuni? Ia sudah pasti akan memperhatikan sekitar dan merekamnya dengan cantik ke dalam pikiran. Hehehe...

Anyway...

I love this moment so much

Terima kasih yang khusus, kuberikan pada Alex, Patris, Zaldi, Obink, Merryieska dan Anna, atas kerja kerasnya menjadikan reuni ini tetap berlangsung. Juga buat semua-semua yang sudah membantu panitia inti kegiatan, sehingga berjalan tak meleset dari harapan. Terutama bagi aku dan beberapa teman yang datang dari jauh, serta meluangkan waktu dan uang untuk menikmati momen nostalgia ini.

Barakallah buat panitia...
Selamat berjuang kembali ke dunia nyata, buat semua teman-teman.
Aku berharap, apa yang sudah dijanjikan kepada alumni dan kampus, dapat dijadikan kisah nyata ya :)

salam, 

Dian Onasis


Sssttt...

berikut, foto-fotoku bareng beberapa teman yang sempat ku"tangkap" untuk foto berdua.


dari atas kiri ke kanan bawah
Bareng Obink, Merryieska, Renny, Yusmarlina, Yunita, Cecep, Aya sofia dan Chia


Bareng desi dan lili, bareng kak madi, ita dan lili, bareng  Awak, bareng Chia dan mery
again, baren gIta, bareng elvy, beka dan ita, bareng taufik dan terakhir sama Desi. :) 

Selama 2 hari reuni, aku bareng2 Ita nih.
Ada cerita dan kisah tersendiri kalau bareng ibu satu  ini
Senangnya, dia gak keberatan aku omelin lho...hahahah 




Tuesday, August 15, 2017

(Travelling Mom) Grand Zury BSD : Membalut Perayaan Agustusan Dengan Sepeda dan Makanan Klasik


Saat masuk ke Lobby Hotel
Akan kita temukan, cuplikan kisah sejarah Sepeda Ontel
di Indonesia
 Membungkus sebuah perayaan kemerdekaan negera, dengan cara yang beda atau unik, adalah hal yang tidak mudah. Namun, Grand Zury BSD berhasil memilih tema kegiatan yang pas dan unik pada momentum Agustus 2017.

Kali ini pilihan untuk bernostalgia dengan Sepeda Ontel serta menyajikan makanan khas Indonesia yang diadopsi dari negara Belanda, memberi warna tersendiri bagi pengingat nuansa masa kemerdekaan dulu.

Komunitas Ontel Tangerang
alias
Oncom (Ontel Communituy)
Sepeda Ontel sendiri adalah sepeda warisan dari penjajahan Belanda. Dibawa oleh Kaum Penjajah dan digunakan sebagai alat transportasi dalam rangka menikmati nuansa Indonesia tahun-tahun itu.

Saat ini, Sepeda Ontel adalah benda sejarah yang mahal dan antik. Pemeliharaannya meski mudah, tapi tidak murah, karena onderdil aslinya sudah sulit ditemukan. Sepeda-sepeda Ontel jenis yang lebih kecil juga ada, namun itu adalah sepeda buatan Cina. Lebih familiar dan cocok dengan ukuran tubuh orang Indonesia.

Kerjasama yang keren
Antara Hotel dan Komunitas
Kerja sama Grand Zury BSD dengan Oncom atau Ontel Community milik orang Tangerang, adalah dengan bersepeda mulai dari Kawasan Taman Kota BSD hingga Lobby Grand Zury BSD. Tujuan utamanya tentu mempromosikan pelestarian sepeda ontel.
Bergaya sebelum mulai bersepeda

Aku ikutan mejeng bareng Ontel di depan
Taman Kota BSD

Team Penggembira dari pihak manajemen hotel 

Disambut secara khusus
dalam balutan pakaian keren khas tradisional
oleh General Manager Hotel Grand Zury BSD

Berbagi kenang-kenangan

Bersama merayakan kemerdekaan dengan cara yang khas 

Bentuk perayaan berikutnya adalah pembuatan menu khusus selama bulan Agustus 2017. Dimana bintang utamanya adalah Klappertaart, Kroket, Perkedel, Lapis Legit dan Poffetjes.

Klappertart, kue khas Menado.

Kroket, awalnya dari Perancis, diadopsi Belanda, lalu disesuaikan dengan bumbu
khas Indonesia. Biasanya ada unsur sayur di dalamnya


Perkedel, bahasa  Belandanya Frikadeller. Berbahan daging
yang dicampur kentang, tanpa sayuran. 


Lapis Legit. Siapa mengira, aslinya adalah Kue Seribu Lapis
Dinyatakan kue sempurna, jika berhasil membuat dalam 18 lapiran 


PofferTjes
Meruakan Pancake ukuran Mini. Enak banget.
penampilannya juga elegan

Setiap makanan tersebut, ternyata berkorelasi dengan warisan penjajahan Belanda. Semuanya adalah jenis makanan khas Belanda yang diadopsi oleh masyarakat setempat di Indonesia, disesuaikan bahan makanannya dengan bahan khas Indonesia, hingga menjadi makanan tradisional dengan ciri khas Indonesia. 
Para Tester sekaligus Penggemar Foto Makanan beraksi
Dua teman baikku ini, Anne dan Erlita,
mencoba sisi lain dalam mengambil gambar
inilah seni Food Photograper

Grand Zury BSD, dengan pintar membidik jenis makanan ini sebagai menu andalan di bulan kemerdekaan ini. Rasa makanan ini pun sungguh menggoyang lidah. Apalagi dibandrol, dengan kisaran harga bersahabat bagi kantong masyarakat kelas menengah, yakni di kisaran 20 ribu ++ hingga 40 ribu ++.

Sepertinya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk menginap di Grand Zury BSD, tidak saja karena fasilitas hotel yang Feels Like Home, namun  sekaligus menikmati pesona makanan klasik hasil adopsi sejarah Indonesia-Belanda. 

Penulis berserta teman dan mbak Dhini, markomnya Grand Zury BSD

Thursday, August 03, 2017

Anak Muda Wajib ke 5 Tempat Nongkrong ini Ketika ke Jogjakarta!






Terus terang, aku telah jatuh hati pada kota Jogjakarta. Aku pernah cerita, kalau aku pernah ke Jogja dan nginep di hotel kan? Ceritanya bisa kalian baca di sini. 

Namun, tahukah kalian, jika kota Jogjakarta tidak hanya dikenal karena pesona budaya dan juga pariwisatanya saja. Dari segi pendidikan, Jogjakarta termasuk salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kualitas pendidikan yang patut diacungi jempol. Tidak hanya dipenuhi dengan hotel dan penginapan, di Jogjakarta juga terdapat banyak sekolah, universitas unggulan dengan kualitas terbaik. Memiliki fasilitas pendidikan unggulan, tidak heran kalau Kota Jogjakarta ini dipadati oleh para pelajar yang berdatangan dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Kota yang juga memiliki sebutan sebagai Kota Pelajar ini ternyata juga memiliki tempat nongkrong untuk para pelajar dan mahasiswa yang hitz dan wajib untuk kalian kunjungi. Tidak hanya seru, beberapa tempat nongkrong di Jogjakarta ini juga memiliki desain yang sangat instagramable, lho!

Tuesday, May 09, 2017

(Travelling Mom) Royal Ambarrukmo Hotel, Really Nice Hotel

Deklare : 
Tulisan tentang hotel ini ditulis atas keinginanku sendiri. 
Aku tidak mendapatkan benefit apapun atas tulisan ini.
Tidak ada kerjasama dalam bentuk apapun dengan hotel. 

***
Norak mode on
Hal pertama yang aku lakukan saat tiba di kamar adalah melihat dari teras kamar
Cakep yaaa :)
*pemandangannya, bukan orangnya :) *itu wajah orang belum mandi 24 jam hahaha 


Kali ini Jogja...

Yeeeey,...

Cerita seru tentang perjalanan ke Jogja akan kutulis, setelah menulis perjalanan ke Palembang. Kali ini aku akan bahas dulu hotel tempat aku dan keluarga, serta teman-teman sekantor divisi yang dipimpin Bang Asis, suamiku, menginap.  

Awalnya, kami mencari hotel yang tidak terlalu mahal. Disesuaikan dengan budget yang terkumpul. Sayangnya, long weekend kali ini, sekretaris Bang Asis gagal mencari hotel yang miring harganya. hehehe

Semuanya penuh.

Ini kita bicara Jogja soalnya. Daerah nomor 2 paling banyak turisnya setelah Bali. hehehe

Akhirnya, diputuskan mengambil kamar di hotel bintang 5 yakni Hotel Royal Ambarrukmo, karena hotel ini relatif masih banyak kamar yang bisa dibooking secara dadakan di saat long weekend. 

Alhamdulillah... bisa nyicipin hotel bintang 5 lagi.


Sunday, May 07, 2017

(Travelling Mom) Menikmati (fasilitas) Hotel Santika di Palembang

Declare : 
Tulisan tentang Hotel ini, kubuat atas kemauanku sendiri
Tak ada kerjasama dalam bentuk apapun, serta tak ada reward dalam bentuk apapun yang kuterima dari pihak hotel.
Semata-mata, karena aku memang ingin mereview kelebihan dan kekurangan hotel ini dari kacamataku sendiri. 
Terima kasih

***



Sarapan pagi, Kala Ayah anak2 sudah bergabung


Menginap di hotel dengan biaya sendiri, jarang kulakukan. Selain memang dananya harus dikumpulkan dulu dengan segenap jiwa dan kemauan...hehehe , juga, seringnya selama ini, ngikut kegiatan suami.

Kali ini, aku memilih Hotel Santika di kawasan Radial, Palembang ini, dengan beberapa alasan. Bukan  untuk pesiar atau jalan-jalan sekeluarga, namun lebih karena alasan Reuni Perak FH Unsri, angkatan 1992. Detail kisah Reuni, akan aku tulis di postingan lain. Semoga aku sempat menunaikan janji ini. Amin

Aku sudah lama melakukan booking hotel ini via booking dot com. Biasanya ada tiga aplikasi yang kugunakan mencari hotel. Traveloka dot com, Agoda dot com dan Booking dot  com. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku lebih nyaman menggunakan booking dot com dalam mencari hotel.

Singkat cerita, aku menginap di hotel ini karena alasan personal banget. 

Thursday, March 09, 2017

(Buku Bacaan) Februariku (Hanya) Membaca Sedikit Buku


Niat sih kuat,... meski fakta di lapangan, aku kesulitan membagi waktu antara rumah, keluarga, tulisan dan bacaan. Hehehe... 

No excuses sebetulnya. Karena aku juga baca banyak kisah melalui internet sih. hehehe.

Tapi, bulan Februari ini, aku terpaksa memilih bacaan sesuai kondisiku yang sedang berusaha keras kembali menulis dengan fokus. Maka bacaan-bacaannya berkisar pada karakter, kumpulan cerita anak hingga picbook. *smile ear to ear

Berikut bacaanku selama Februari ini... 

(Traveling Mom) Pangandaran... So Beautiful


Pejalananan ini sudah berlangsung 1 tahun lebih. Akhir Januari 2016 itu adalah masa-masa capek minta ampun. Karena kami baru saja pindahan rumah. Dan kondisi rumah sendiri belum sepenuhnya layak huni. 

Tapi, kegiatan family gathering Lifting Marine Operasion atau LiMO di perusahaan suami kerja sudah lama direncanakan oleh pihak karyawan bagian tersebut. Sebagai salah satu atasan di divisi tersebut, adalah wajib buat ayahnya anak2  mensupport kegiatan ini. Aku pun menikmati "escape" ini, karena tingkat keletihan yang tinggi, saat baru pindahan, rumah belum kelar dan pikiran mumet kemana-mana.

Dirasakan kalau ikut ke perjalanan 3 hari 2 malam ke Pangandaran ini adalah sebuah kegiatan yang menyehatkan. Apalagi, bisa mengenal semua keluarga besar divisi LiMO, serta menyaksikan pemandangan alam yang indah-indah.

Detail kegiatan sebetulnya ada. Tapi entahlah... feel nulisnya udah gak sama... Jadi aku titip foto-foto saja di sini... berikut keterangan sedikit. 

Saturday, February 11, 2017

(Travelling Mom) Merasakan Fasilitas Presidential Suite ala Hotel Salak Bogor

***

Pernyataan :

Tulisan ini kubuat atas kesadaranku sendiri. Tidak ada kerjasama dalam bentuk apapun dengan hotel yang kureview.

***



Putra Bungsuku di depan hotel Salak The Heritage

Menikmati fasilitas hotel berbintang 4 sekelas Salak kali ini adalah yang ke 3 kalinya. Dan ini adalah keberuntungan dan nikmat dari Allah karena "ngintilin" Ayahnya anak-anak. Hehehe *tutup muka, ketauan gratisan. :)

Kali pertama nikmatinnya dulu 10 thn lalu mungkin, saat kami berdua belum punya anak. Lalu bbrp tahun lalu, saat baru punya Billa. Kali ini Aam, putra bungsuku mendapat kesempatan menikmati, hotel yang bagian depannya adalah bagian dari hotel jaman Belanda dan old version banget, berposisi dekat Balaikota dan depan Istana Bogor.

Dibangun sejak jaman Belanda, kisaran tahun 1922

Lukisan ini menunjukkan bagian depan hotel Salak asli, karena bagian belakang gedung hotel adalah tambahan

Alhamdulillah, kali ini Ayahnya anak-anak mendapat kamar dengan fasilitas Presidential Suite Room. Aku coba cek ke booking dot kom kisaran harga kamarnya adalah antara 2,5 juta hingga 3,3 juta per malam. *tergantung kapan kita ngebook kayaknya. (tgl 12 Februari aku iseng ngecek, harganya 3.3 juta semalam). Baiklah... kalau bayar sendiri mah...terima kasih banyak .. hehehe