Sunday, August 05, 2012

[Xenophobia] Am I A Xenophobia Maker?

 ***

“An abnormal fear or hatred of foreigners and strange things.”
Mata perempuan itu menatap lekat tulisan pada layar.  Hening sebentar. Ia sepertinya mencoba menelaah kata-kata tersebut.
Perlahan terdengar hembusan nafasnya. Kembali senyap.
Tak lama, tangannya kembali memegang tetikus.
“Klik!”
“A person unduly fearful or contemptuous of that which is foreign, especially of strangers or foreign peoples.”
Keningnya berkerut sedikit. Keminiman ilmu yang dimilikinya, mengharuskan otaknya bekerja lebih keras dari biasa, guna mengunyah mentah-mentah kata-kata asing tersebut. Kali ini bukan resep atau cerita anak yang dijadikannya kata kunci di mesin pencari, namun kata asing yang semakin hari, semakin membuatnya bertanya-tanya, apa definisinya ya?
Tangannya kembali menscroll tulisan yang ada di layar komputernya. Sekali-sekali kegiatan terhenti, karena harus membuka kamus terjemahan Inggris –Indonesia.
“Ugh, inilah akibat kursus bahasa Inggris hanya untuk dapetin sertifikat doank.” Gerutunya dalam hati, sementara tangannya sibuk membolak balik lembar kertas kamus, setebal bantal boneka anaknya.
“Ah coba di laman lain, ah….” Pikirnya makin ingin tahu.
“Hatred or fear of foreigners or strangers or of their politics or culture”
“Hemmm, politik dan budaya dari orang asing pun masuk dalam indikatornya ya?” bisiknya perlahan. Tangan kirinya bergerak perlahan mencari gelas teh hangat, yang sudah disiapkannya sebelum melakukan pencarian data pagi itu.
Suara menyeruput air teh, sedikit memecahkan keheningan subuh. Aliran teh hangat menelusuri kerongkongannya. Nyaman, namun pikirannya tidak.
Mulut perempuan berusia jelang 40 tahun itu kembali berkomat-kamit, membaca sebait kalimat.
Xenophobia is defined as “an unreasonalble fear or hatred of foreigners or strangers of of that which is foreign or strange. It comes from the Greek words (xenos) meaning “stranger”, “foreigner”, and (phobos), meaning “fear”.
Jemarinya melakuan kebiasaan lama, yakni mengelus-elus dagunya. Sesekali kepalanya terlihat sedikit miring. Bertanda ia sedang berpikir keras.
“Wah, dari bahasa Yunani, toh, kata Xeno berasal?” pikirnya. Sesaat kemudian ujung bibirnya sedikit naik, ada sedikit senyum meruncing di sana.
“Kog ya, aku jadi inget sodara jauhku yang bernama Seno, sih? Penyebutannya aja mirip, artinya pasti gak sama, ah….” Gigi geliginya muncul sekilas menyertai senyum, yang sayangnya lebih mirip seringai. Entah kenapa, di saat serius begini, malah muncul konsep sontoloyo menyamakan kata Xeno dengan Seno. Kepalanya menggeleng sebentar. Berusaha mengusir kekonyolan yang baru saja menggodanya.
“Klik!” Tetikusnya kembali bekerja.
Kali ini Oxford English Dictionary secara online dibukanya. Muncul kalimat, xenophobia include : deep-rooted, irrational hatred towards foreigners, unreasonable fear or hatred of the unfamiliar, especiallya people of other races.
Meski tak letih, namun perempuan itu meletakkan punggungnya pada kursi komputer. Lagaknya, ia mulai mencoba membentuk pattern atau cetakan pola pikir dalam otaknya, yang kalau tak rajin digunakan, dijamin akan sama dengan kondisi museum tua di kawasan Kota.
“Apa aku seperti itu ya?” Tanyanya pada diri sendiri. Senyap. Tak ada jawaban. Lalu, ia berdiri, perlahan berjalan menjauhi komputer di ruang kerjanya. Berjingkat sebentar. Entah, alasannya tak jelas, mengapa harus berjingkat di rumah sendiri?. Perlahan, dibukanya pintu kamarnya. Lampu temaran di kamar, tak membuatnya sulit untuk memandangi satu persatu wajah anak-anaknya.
Aura tenang bayi laki-lakinya yang berusia 4 bulan membuatnya tersenyum bahagia sebentar. Matanya terbiasa dengan remang kamar dan mencari wajah anak perempuannya. Anak perempuannya yang beberapa minggu lagi, akan berusia 4 tahun, tampak pulas dengan gaya tidurnya yang rusuh.
Tiba-tiba, tanpa dapat ditahannya, kilasan-kilasan frame cerita sehari-harinya muncul bertubi-tubi.
“Udah, Billa di dalam aja. Gak usah ikut Bunda. Cuma sebentar, kog, Bunda beli tahunya. Si tukang tahunya ada di depan. Kakak gak usah ikut-ikutan, ntar diculik tukang tahu itu.”
Adegan sesaat itu terjadi di malam hari, karena tukang tahu itu selalu menjual tahunya malam hari. Meski tahu jualannya si Tukang Tahu itu enak, tapi hati perempuan itu sering tak nyaman setiap kali laki-laki dewasa, dengan baju seadanya, berkulit hitam terpanggang matahari dan bahkan mungkin ditambah sinar bulan, berdiri menunggunya membayar tahu belanjaan. Laki-laki itu selalu menyapa anak perempuan kecilnya dengan ramah, jika putrinya berkeras hati untuk tetap melihat si Tukang Tahu.
Kali lain,
“Eh, kakak di dalam aja. Udah…, gak usah ikut-ikutan belanja sayur. Bunda gak suka kakak baek-baek sama laki-laki asing kayak tukang sayur itu. Awas, ntar kakak diambilnya lho….! Mau jauh-jauhan sama Bunda?”
Kalimat itu sekali-sekali muncul dari mulut si perempuan, ketika putrinya bersikeras ikut serta menemaninya belanja pada tukang sayur, yang rutin melintasi jalan di depan rumah. Penampilan si Tukang Sayur yang mirip si Tukang Tahu, membuatnya khawatir, terutama, setiap kali laki-laki dewasa itu mencoba menyapa putrinya dengan ramah.
Di kesempatan berbeda,
“Hush, gak boleh bicara ama orang asing, termasuk tukang ojeg, ya!” perintahnya dengan suara berbisik pada putrinya. Ketika putrinya yang sangat ramah itu menyapa si Tukang Ojeg. Lagi-lagi, sikap perempuan itu mendokrin putrinya, agar tak beramah-ramah pada laki-laki dewasa dengan penampilan, yang juga mirip si Tukang Tahu dan si Tukang Sayur.
Deg!
Rasa-rasanya ada yang tak beres pada dirinya. Tiba-tiba, pagi itu, hati si Perempuan yang juga berkulit tak putih, terasa penuh sesal.
“Duh, apa yang sudah aku lakukan? Apa aku sekedar berprasangka buruk pada penampilan laki-laki dewasa yang lusuh? 
Atau aku termakan berita-berita tentang penculikan serta perkosaan terhadap anak kecil, yang dilakukan oleh orang-orang asing di sekitar rumah? 
Terlalu khawatirkah aku akan berita  yang ada di televisi dan media massa lain tentang kejahatan orang dewasa terhadap anak kecil?
Ataukah aku mulai ketakutan tanpa alasan pada orang-orang asing yang sebenarnya berprofesi baik itu?” Pikiran perempuan tersebut berkecamuk. Rasa bersalah mulai muncul.
Perlahan, tangannya menutup pintu kamar. Tiba-tiba seperti muncul udara dingin di sekitar tubuhnya. Ada gementar kecil perlahan menyusup. Ia mulai waspada terhadap dirinya sendiri. Ada yang tak beres pada konsep buatannya mengenai orang asing.
Tak lama, ia kembali duduk di kursi di depan komputer. Tangannya mengelus tetikus, menggenggam dan mengarahkannya pada beberapa laman yang masih terpampang di layar.
Sebaris paragraf penjelasan mengenai karakter orang yang xenophobia muncul. Ia mendekatkan wajahnya sedikit maju ke arah layar. Memastikan mata dengan kacamata plusnya membaca dengan baik. Otaknya -lagi-lagi- mencoba mencerna tulisan dalam bahasa Inggris. Sedikit keluh muncul dalam hatinya, setiap kali harus bekerja keras menerjemahkan kalimat-kalimat asing itu. Namun dikalahkannya keluhan tersebut, demi harapan mendapat masukan positif bagi kesalahan yang mungkin telah dilakukannya.
“A xenophobic person has to genuinely think or believe at some level that the target is in fact a foreigner. This arguably separates xenophobia from racism and ordinary prejudice in that someone of a different race does not necessarily have to be of a different nationality. In various contexts, the terms "xenophobia" and "racism" seem to be used interchangeably, though they can have wholly different meanings (xenophobia can be based on various aspects, racism being based solely on race, ethnicity and ancestry). Xenophobia can also be directed simply to anyone outside a culture, not necessarily one particular race or people.”
Matanya melekat pada kalimat rasis dan prasangka yang muncul berdampingan dengan kata xenophobia. Meski masih kesulitan menelaah semua kalimat tersebut. Hatinya agak tidak tenang. Sebuah tanda tanya besar muncul di kepalanya.
“Apakah aku telah menjadi seseorang yang membentuk karakter xenophobia pada putriku sendiri? Am I already, a xenophobia maker?

***
Pamulang. Terinspirasi pada kisah diri sendiri.
Isi tulisan terdiri atas 1137 kata.
Definisi dan informasi mengenai xenophobia dikutip dari : sini, sana, situ, sebelah sana dan sebelah sini
Diikutsertakan pada lomba menulis bertema xenophobia, milik Liliput Berjilbab. 
Ditulis dengan perasaan penuh kekhawatiran, apakah aku salah faham dengan kata xenophobia? Rasis? Prasangka jelek? Aaaah, apa pun itu. Akhirnya aku jadi belajar banyak setelah menulis ini. 

97 comments:

  1. mudah2an bukan ya uni

    ReplyDelete
  2. Uniiiiii.....aku suka niy tulisannya, kesimpulan dari hasil gugel yg kemudian dihubungkan dengan karakter dan pengalaman beritindak penulis selama ini :)

    ReplyDelete
  3. suka sudut pandang tulisannya.
    btw, satu lagi kemiripan billa dengan cha. ramaaaah banget sama semua orang :)

    ReplyDelete
  4. iya, gara2 baca ttg xeno, uni jadi waspada.. ntar komen kemana2 soal xeno, taunya uni sendiri membentuk anak jadi xenophobia nih may.... :(

    ReplyDelete
  5. duuuh.. makasih apresiasinya shanti.. *uni nunggu tulisan shanti nih..

    tapi sebenarnya sekrang lagi deg2an baca lanjutan soal sms porno itu.. (turut prihatin, sekaligus belajar banyak akan hal itu.. makasih lho sharingnya...)

    iya.. lomba lessy ini kog ya bikin uni gak bisa tenang utk tidur, sebelum uni kelar menulisnya. draft udah mingguan, execusinya pagi ini, dengan membujuk bang asis untuk gak ganggu komputer keluarga di ruang kerja.. hehehe

    mudah2an bisa jadi pelajaran bagi para ibu2 juga ya..:*(

    ReplyDelete
  6. iya, kadang uni deg2an lho gitaaa

    sekarang uni nyoba lebih bagus kalimat yang dipake.. misalnya, "kaka kalau ada laki2 atau perempuan pegang2 tubuh kaka, jangan mau ya...? bilang ke bunda atau ayah ya? "

    atau di lain waktu.."boleh ramah, tapi gak boleh lagi sendirian ya.. harus ada bunda atau ayah ya.."

    punya anak anti sosial repot, punya anak terlalu sosial atau ramah, juga repot ya git..hehehe


    btw,,, makasih udah nyempatn baca.... *biar gak bosen lihat judul catatan ramadan ttg ASI mulu ya...hihihi

    ReplyDelete
  7. Jadi inget jaman kecil dulu, kalo liat mobil boks pada larii karena takut diculik, padhal mobil itu ngedrop snack ke warung2...habis ditakut2innya itu gerombolan tukang culik hihihi

    ReplyDelete
  8. hahaha.. saya juga dulu gitu bulik... kalau lihat orang bawa karung dan parang, langsung kabur.. kata ortu itu tukang culik, dalamnya ada kepala anak2 yang dipakai untuk bikin jembatan.. duuuh..

    kalau dipikir2 ternyata itu orang adalah pemotong rumput untuk makanan sapi.. aduuuuh...:(

    ReplyDelete
  9. hahha iya uni, mawas diri, jgn2 kita yg membentuk anak utk xenophobia

    ReplyDelete
  10. Being alert and being paranoid, though two different things, are only separated by thin line. Just make sure you know where to draw the line.

    ReplyDelete
  11. demikianlah proses kreatif tulisan ini muncul maya..

    draft aslinya tak seperti ini, meski judulnya tetap..

    *hemmm sepertinya uni termasuk orang yang suka menulis dengan memunculkan judul duluan nih... heheheh

    ReplyDelete
  12. saya sedang belajar untuk itu ...

    *buka2 kamus lagi, karena takut salah faham ama komennya...:)

    makasih sudah mampir ya edwinlives4ever... ^_^

    ReplyDelete
  13. aih... ternyata dirimu juga ya...? :))

    seringnya emang cenderung semangat menulis, ketika tiba2 muncul ide judul di kepala ya gita? hehehe

    *eh jadi kepikiran soal spooky novel itu yang belum uni buat, karena lum ketemu judulnya..heheh

    ReplyDelete
  14. haha.. iya, ni. di folderku banyak judul2, tapi isinya cuma beberapa kalimat atau malah kosong. payah niy, nggak dilanjutin..

    tenang aja, ni. yang ngirim baru mb fita :)

    ReplyDelete
  15. jadi ceritanya xeno dari pengaruh luar yah :)

    ReplyDelete
  16. gubrak! sama lagi ternyata... *tepok jidat... hehehe


    iya, lagi nyari ide, ditengah riwehnya keluarga..hahaha

    ReplyDelete
  17. err... luar apa nih kak list?

    luar negeri? atau luar keluarga?

    ada beberapa info bilang, kalau xeno cenderung marak terjadi di Eropa dan Australia...

    negara2 Asia gak semarak mereka..

    tapi entahlah... bisa jadi, kitanya aja yang anggap tak semarak, padahal mungkin aja kita juga yang ngebentuk kebencian pada orang asing di otak anak, tanpa kita sadari ya.. *saya belajar banyak setelah menulis ini, meski tak berhasil membuat saya pintar juga ttg xenophobia.. akibat lelet otak dalam bhasa inggris..:(

    ReplyDelete
  18. "Kalo kakak nakal nanti dibawak ke dokter biar di jus pantatnya" kikikikikiki ini salah satu yang sering juga :)

    ReplyDelete
  19. hehehe...

    insyaAllah untuk yang satu ini tak pernah saya gunakan, om dokter..:)

    soalnya saya khawatir juga, kalau ditakut2in dengan profesi dokter, yang repot saya sendiri..hehehe

    makasih kunjungannya yaaa ;)

    ReplyDelete
  20. haha.. ternyata nggak cuma anaknya yang mirip :D

    ReplyDelete
  21. tapi uni pengen punya body mirip umminya cha.. *obrolan mulai gak fokus.. hahha

    ReplyDelete
  22. Kalo alertnya sesekali itu masih wajar, kalo alert terus terusan maka ini menjurus ke paranoid :)

    ReplyDelete
  23. Uni, di tulisan ini yang hendak ditonjolkan melahirkan pelaku2 xeno ato melahirkan xenonya itu sendiri?

    ReplyDelete
  24. Waaaw....akhirnya uni mengeksekusi tulisannya dan disumbangkan ke lombanulis ttg Xenophobia ini. Terima kasih banyak ya Uni atas suppprt dan sumbangan tulisannya. Gak nyangka kl kata Xenophobia bikin uni sampai kepikiran berhari hari...sejak awal2 lomba ya uni? Berarti berminggu2 dong ya Un? Itu krn jiwa dasar uni yg gampang tertantang rasa penasaran kena senggol...keliatan bgt kalau hal itu justru yg jadi jiwa tulisan uni ini. *peluuuuuuk*

    Waspada tetap perlu uni..hanya saja, seperti yg uni bilang juga, mungkin bahasa penyampaiannya yg beda yah? Dulu waktu kecil juga sering dengar yg aneh2 dari sekitar, tapi seingatku ibu ngajarinnya waspada sama semua sekalian tanpa pandang bulu tapi jangan pernah nunjukin ke orangnya :p

    ReplyDelete
  25. ini yang saya khawatirkan pada diri saya juga sih om dokter..:)

    ReplyDelete
  26. secara tidak sadar kita menciptakan xenophobia itu sendiri ya, Un.. :(

    ReplyDelete
  27. entahlah... bisa jadi uni khawatir melahirkan pelaku xeno.. atau mungkin melahirkan xeno tersendiri..

    uni hanya membaca, bercermin dan menumpahkannya dalam tulisan...

    jika hendak dikaji lebih dalam, mungkin cenderung membosankan nantinya buat pembaca.. karena membaca definisinya saja, udah bikin kening uni berkerut..:(

    ReplyDelete
  28. iya betuuuul...

    berminggu-minggu.. sempat jadi headline obrolan sebentar dengan bang asis, tapi terhenti, karena bang asis gak komen.. ntah karena pusing, atau gak ngerti atau gimana kurang jelas.. *tapi dia mau komen waktu uni coba hubungkan xeno ini dengan pelaut.. *mudah2an ada waktu untuk nulis draft naskah ke 2 nantinya.. amiiiin

    makasih ya udah bikin uni sedikit "tambah" ilmu soal ini.. tulisan2 teman2 lain juga jadi pencerahan bagi uni...

    kalau kata kakak billa... "tante lessy... good job!" hehehe udah bikin orang lain memeras otaknya akan kata asing yang makin tak asing lagi ini..heheeh

    ReplyDelete
  29. itu komentar2 diatas mengarah ke hal yang sama..

    ttg tingkatan waspada, kedekatan pada paranoid dan menjurus ke arah xeno..

    iya betul.. pelajaran bagi uni, sudah tua jadi emak2 ya gini.. kadang pinter baca tak pinter mengeksekusi dengan kata dan perbuatan...
    gak boleh nyebut nama, profesi dan orangnya ya...:)

    makasih sharing dari ibunya lessy... alhamdulillah..

    ReplyDelete
  30. naaaah itu yang jadi pikiran uni selama ini Guh...

    kadang uni jadi mikir..ini komen sana, komen sini.. terus kelakuan guwe gimana? hiks..

    ReplyDelete
  31. woah suka deh cara nulisnya ini.. kamus dan diri..
    dan emang di diri kita ada xeno sendiri, punya prasangka juga persepsi diri terhadap orang lain.. padahal kenal juga kaga, karena penampilan..
    kayanya xeno gini emang manusiawi ya.. naluri ibu.. banyak kog kaya gini.. "jangan main di luar, nanti hilang", "jangan ngobrol sama orang ga dikenal, nanti diculik loh", "jangan jauhjauh dari mama, nanti kamu diambil orang".. blablah.. emang kaya gitu "kewaspadaan" juga "keparanoidan" seorang ibu.. bukan unidian sendiri deh, daku juga gitu kalu sama para dogol.. ga bisa jauhjauh dalam keramaian.. mulut udah otomatis bilang jangan ini jangan itu..

    ReplyDelete
  32. Btw...baca tulisan uni ini, jd bikin aku pengen cerita kl sdh seminggu pindah ke komplek dosen ini, lebih banyak ketemu komunitas internasionalnya ketimbang 'Singaporeannya'. Di gedungku ini, hampir tiap hari ketemu dua anak kulit putih rambut blonde seumur Billa yg pertama kali liat aku melongo, merhatiin dan pas aku bilang "Hallo" sambil senyum, mereka malu malu jawab "hallo" juga sambil senyum. Tapiiii...besok2nya kl liat aku kabur sebisanya...
    :)
    Jadi penasaran pengen liat yg mana ya orang tuanya..:)

    ReplyDelete
  33. makasih apresiasinya mbak tin...

    iya... kadang kewaspadaannya kudu dijaga juga ya.. supaya gak lost jgua... heheeh

    ReplyDelete
  34. Perenungan xenophobic seorang ibu...

    ReplyDelete
  35. emaknya kayak uni kali yee...

    "eh. apa? ketemu sama perempuan mungil berjilbab? yakin itu manusia bukan liliput?" kata emaknya anak kulit putih rambut blonde...

    "eh, besok-besok jangan deket2 ibu2 berjilbab itu ya.. ntar ilang lho.. dibawa ke taman liliput.... ok kiddo!" lanjut emak yang lainnya..


    hehehe.. *maaf ya.. uni kog jadi terpikir aneh begini..

    ugh, jadi pengen tau cerita lanjutan lessy dengan insting ingin tahu nya..:)

    ReplyDelete
  36. iya mbak mia..

    terus terang, ini sempat terjadi cukup lama sama dian, terutama sama abang2 yang baik sama billa atau membalas keramahan billa..

    tapi dian jadi harus pintar2 milih kata2 juga ya...? :((

    ReplyDelete
  37. uni sempat mikir lagi.. ini terkait kosa kata atau bahasa yang uni gunakan di judul kayaknya ya... ?

    hehehe.. uni gak ngerti juga.. gak gitu faham masalah kata xenophobia kalau jadi subyek, noun atau apa di tulisan uni ini..

    bisa bantu uni gak ibuk?

    ReplyDelete
  38. Cara bercerita yang keren, sejak awal saya sudah "membaca" kata 'dia' itu maksudnya Uni sendiri kan ? keren Uni ... pasti dapat point bagus dari juri ;)

    Iya, saya juga sering merasa bersikap spt itu, ada sedikit prasangka negatif dengan orang asing di sekitaran. Terutama karena Rahma (4 thn) sangat suka berbicara dengan orang dewasa, biarpun mereka adalah orang yang baru dikenalnya. Orang lewat depan rumah aja, dia pasti sapa. Khawatir yang cukup beralasan, karena di tempat adikku, sudah ada 3 anak hilang dan belum kembali sampai sekarang. Aku sendiri belum bisa menilai apa aku sendiri sudah termasuk xenophobic atau xenophobic maker atau hanya sekedar bersikap waspada.

    ReplyDelete
  39. ada rasa sayang di situ :-)

    ReplyDelete
  40. Jd penasaran bedanya xenophobia sama paranoid. *abis baca komen om gagak en mbah eddy.
    Setuju sama yg laen, penulisan yg keren.

    Btw, xenophobia jg bisa ditularkan dr ortu ke anak.
    Well, aku sendiri jg ada didoktrin sama ortu koq :p
    But semakin dewasa, biarlah doktrin itu aku keep aja :)

    ReplyDelete
  41. "Xenophobia berkecenderungan permanen. Ia bukan rasa takut yang bersifat temporer, mendadak. Rasa takut seperti itu disebut paranoid. Karenanya, takut yang terjadi pada xenophobia bukanlah ketakutan yang sama dengan ketakutan seorang aktivis dikuntit intel. "

    Gw kutip sendiri dari postingan gw feb, semoga bisa bantu

    ReplyDelete
  42. Xenophobic tidak ditularkan secara genetik, tetapi diinjeksikan (doktrin). Bisa lewat ortu atau orang lain.

    ReplyDelete
  43. Cara menyampaikan ke anak2 biar ga jadi nakut2tin ya un, makasih sharingnya

    ReplyDelete
  44. larass juga suka nakut2in ponakan sama kegelapan kalau pada susah tidur, apa itu juga nantinya bisa masuk menjadi kategori xenophobia??

    ReplyDelete
  45. waw gaya menulisnya unik, Dian...like it. Jadi belajar bnyk juga dari komen2nya

    ReplyDelete
  46. Haha..mari kita lihat saja nanti gimana kesempatannya Uni..aku nggak tahu yg mana orang tua anak itu dan apa karena mereka..belum juga sempat tahu mereka darimana. Ini baru menunjukan pola kalau pas mereka lagi main sore2 di lobby gedung..aku lewat2 dan senyum.

    Karena aku tinggal di lantai dasar, mereka dengan mudah melihat di mana unit rumahku. (yes, aku lihat mereka berdua playing detektif, ngikutin aku sambil ngumpet ngumpet untuk tahu rumahku di mana....aku belum berani bales..haha..karena nanti mencolok bgt kl aku sengaja naik ke lantai atas dan gak lucu karena aku bukan anak kecil kayak mereka berdua yg lucu-lucu aja kalau nyasar ke lantai rumah orang)

    mungkin ini bisa jadi cerita lucu nantinya...mungkin...:)

    ReplyDelete
  47. oh kirain arti xenophobia hanya takut pada orang asing yang berlainan negara...hehe ternyata bisa juga pengertian nya orang asing yang berarti yang tidak kita kenal yaa??

    ReplyDelete
  48. @cak marto: iya diturunkan dr ortu ke anaknya by doktrin lah, bukan genetik

    ReplyDelete
  49. aah uni, kalo anty jadi uni mungkin akan bersikap sama, mengingat seram sekali kejadian2 yang diceritakan media massa :(

    ReplyDelete
  50. Emang iya...hehe..
    Bunda Billa lebaay dan seno eh xenophobia maker :D

    ReplyDelete
  51. waktu aku kecil, ada tante yg selalu nakut2in dg kalimat spt yg uni bilang itu "awas nanti diculik.."

    ReplyDelete
  52. ternyata kita sama ya uni, berhari2 berkutat dg kamus dan mesin pencari cuma utk memastikan arti dari xenophobia. Berusaha meyakinkan diri, apa itu masuk kategori xenophobia ato bukan ya? Bedanya, uni akhirnya nulis jg, sementara dian smpe skr ga nulis2 juga.. Hehehe

    ReplyDelete
  53. bagus sudut pandangnya uni, aku dah jiper duluan mau ikut lombanya mbak lessy.

    Soal bila, setuju kalo uni memperhalus bahasa larangan ke bila. Maksudnya jangan mentakut-takuti gitu hehe

    ReplyDelete
  54. alhamdulillah jika winny suka..:) mudah2an para jurinya juga suka seperti winny.. :))

    saya memang agak telalu over waspada terhadap billa, pertama karena dia terlalu ramah, ke dua rumah kami dilewati kendaraan umum dan ketiga, uni lama dapat punya anak, jadi mungkin double2 deh perasaan ini.. heheh

    ReplyDelete
  55. iya betul om... tapi kadang2 rasa sayang orang tua juga suka salah kaprah ya... :(

    ReplyDelete
  56. uni rasa level terberat pasti xenophobia, karena kayak penjelasan cak marto, ini kan laten ya.. gak kelihatan.. kalau paranoid, biasanya kelihatan dari permukaan, jadi pihak lain bisa mengantisipasi.. *cmiiw...

    n makasih apresiasinya bupeb...:)

    ReplyDelete
  57. postingan cak marto termasuk postingan yang saya kopas, simpan dalam folder komputer dan dibaca berulang, sebelum saya memberanikan diri ikut dalam lomba menulis ini cak..

    kata permanen dan kadang kala sifatnya laten pada xenophobia ini saya temukan di tulisan cak marto...

    setelah saya coba kaitkanlah, makanya saya bertanya pada diri saya, apakah saya membentuk karakter seseorang atau membuat ketakutan baru terhadap orang lain... karena perasaan itu tidak sekedar temporer saja.. sejak saya punya anak, hingga detik ini, kewaspadaan saya terhadap orang asing yang ramah dengan anak2 saya, tetap jadi alert. meski saya tahu ini salah.. *lebay kalau kata orang tua saya..:))

    makasih ya cak.. tulisan cak patut diapresiasi banget, karena membuka mata orang2 seperti saya yang sedikit kesulitan memahami xenophobia dengan lugas. ^_^

    ReplyDelete
  58. ini yang saya khawatirkan telah saya lakukan.

    hebatnya dunia tulisan ya cak.. bisa membantu seseorang membaca dirinya sendiri..:)

    ReplyDelete
  59. kadang kala, seperti uni bilang yel.. ilmu membaca sudah mumpuni, nah pas praktek... emosi yang main... rasa khawatir dan antipati pada orang asing yang terlalu ramah atau gimana2 sama anak, kadang kala muncul dalam bentuk ancaman..

    uni masih terus belajar.. hingga detik ini..>:(

    ReplyDelete
  60. uni sendiri masih belajar nih larass.. sebenarnya xenophobia ditujukan pada orang saja atau pada benda juga ya..

    tapi kalau takut gelap, ada phobianya tersendiri deh kalau gak salah. *mudah2an ntar ada mpers yang bisa bantu.. phobia terhadap gelap itu namanya apa... :)

    ReplyDelete
  61. ini asyiknya dunia multiply ya nita..

    gak cuma kita yang nulis jadi belajar, tapi juga yang komen dan yang baca.. :)

    alhamdulillah senang sekali apresiasi dari nita... *i wish u are the juror... hehehe

    ReplyDelete
  62. seru ah kalau ada anak2 kecil main detektif dan mantengin keberadaan lessy.. hehehe.. *anak kecil paling tahu lho mahluk yang menarik itu seperti apa.. hihih..

    kayaknya bisa jadi ada cerita lucu.. toh tetangga baru, pasti penuh cerita baru.. ^_^

    ReplyDelete
  63. ugh! semalaman uni mikir, apa perlu uni perbaiki judulnya ya... tapi entahlah.. kesibukan semalam dan riweh sama anak2 bikin pasrah dengan kata "locked" ini....;)

    ReplyDelete
  64. secara bahasa cukup ngertiin juga nih mbak lily..

    xenos itu orang asing artinya... :)


    btw.. udah lama nih mbak lily gak dolan ke sini.. hehehe makasih ya udah baca2...:)

    ReplyDelete
  65. apalagi dapetin si anak lama lagi ya anty.. hehehe

    ReplyDelete
  66. heheh.. *tutupmukapake panci..:)

    ReplyDelete
  67. hehehe.. tipikal banget deh tante2 jaman dulu ya dee.. hahaha

    ReplyDelete
  68. nah lhooo... :)

    uni udah kadung janji sama diri uni sendiri.. bahwa uni harus ikutan lombanya jeng lessy..

    ampe postingan catatan asi yang tiap hari uni posting, uni jeda 2 hari nih kayaknya.. soalnya masih ngutak atik satu naskah lagi... mudah2an bisa terkejar hari ini.. tapi kalau gak bisa. ya kapan2 di posting lagi..hehehe

    ayo dian aaaaah.. kalau udah biasa nulis pasti dian 1 jam kelar deeeeeh...

    masih ada 12 jam lebih nih waktunya..:) *kompor meledug!

    ReplyDelete
  69. aiiiih indaaaah. *colek pipi nya aaaah..

    pemenang lomba qultummedia kog bisa jiper ikutan lombaaaaaa? hehehe

    emang kalo ada sifat ingin yang terbaik, kadang kala bisa jadi batu penghalang penulis lho indah...
    bawaan gak mau salah, khawatir salah faham, kurang menarik dan lainnya, kadang jadi bikin penulis maju mundur.. heheh

    uni pernah di fase itu.. tapi uni pikir uni mau "hajar bleh!" aja aaah.. hehehe

    ayo indah.. masih ada 12 jam lagi lhoooo...:)

    ReplyDelete
  70. makasiiih masukanya un.
    cuma yaitu aku masih bingung sama definisi si xeno, takut salah tafsir hihihi

    ReplyDelete
  71. tipsnya ya definisi bahasa aja kali ya indah.. *ini yang uni pakai..

    kata xenophobia kan dari kata xenos dan phobos

    xenos artinya foreigner
    phobos artinya fear

    jadi dari situ aja..

    kata foreigner kayaknya mengarah pada orang deh.. kalau pada benda, umumnya ada nama2nya sendiri gitu..

    misalnya takut pada tempat asing
    takut pada kegelapan
    takut pada ruang sempit.. dan lainnya..:)


    mudah2an bisa bantu indah nulis..

    ReplyDelete
  72. bacanya serasa digiring utk membayangkan situasinya.. keren uni :)

    ReplyDelete
  73. gaya penulisan yang asik...
    billa sama kaya fadhl, gampang deket ama orang lain, akupun suka ngelarang dia utk bicara dg orang asing kok..

    ReplyDelete
  74. Yang aku lihat Dian 'tidak begitu' bisa dikatakan sebagai xenophobic maker. Hal penting adalah tahu membedakan niatan yang melatarbelakangi dalam menyampaikan 'keasingan' kepada anak dalam melindungi mereka. Niatan itu akan terartikulasikan dalam redaksional cara menyampaikan ke anak.

    Kalo Dian menyampaikan agar anak hati2 dan waspada terhadap orang asing karena kemungkinan tindak kriminal (culik, perkosa, bunuh), itu bukan doktrin xenophobic. Meski anak bisa mengembangkan sendiri ke arah sana.

    Beda dengan kalo Dian menyampaikan agar anak hati2 dan waspada terhadap orang asing karena dia hitam, cina, kristen, jerman, sosialis, dan prasangka negatif perbedaan anutan, itu sudah pasti doktrin xenophobic.

    Tapi memang sedikit susah memilah itu. Butuh kejelian.

    ReplyDelete
  75. ngerti un... hehee #sotoyy

    ReplyDelete
  76. Uni, jadi xenofobia bisa meliputi berbagai aspek ya, Un?
    Febi kira hanya sikap antipati atau prasangka yg tidak berdasar ...
    Menurutku, yang uni lakukan ke billa ada alasannya dan ada pemicu yg menyebabkan uni bersikap seperti itu, kan? Berarti tindakan uni ga termasuk xenofobia dong ya?

    ReplyDelete
  77. ini cerita kok ya sama dsini ya ni....hati2 ntar diculik trus dijadiin tumbal bikin jembatan...huwaaaa dulu takutnya setengah mati hahha

    ReplyDelete
  78. Tulisan uni bagus banged.....sebagian menggambarkan ttg vn nih terutama yg les inggris cm buat sertifikat doank nah akibatnya skrg dahi berkerut berlipat2 deh klo nemu linggis eh bhs.inggris :D

    ReplyDelete
  79. Pake happy call, biar ketutup semua Yan :D

    ReplyDelete
  80. makasih iah... masih terus belajar nih..:)

    ReplyDelete
  81. mungkin anak2 berkarakter ekstrovet gitu ya mbak eva ya?

    makasih ya apresiasinya mbak eva sayang..:)

    ReplyDelete
  82. i see.. berarti jawaban atas pertanyaan diriku di atas, adalah aku bukan xenophobic/a maker ya cak?

    tapi iya.. saya butuh kejelian untuk tidak sampai ke arah mendoktrin yang seperti cak tulis diatas...

    makasih penjelasannya....

    ReplyDelete
  83. kalau dari hasil komen2 di atas, sepertinya uni belum masuk ke sana ya fe?

    namun tentunya sebagai ibu, kita juga harus waspada dengan dokrin yang diberikan.... itu yang uni dapat sih..

    alhamduilllah, menulis ini dan membaca komen2 temen2, mencerdaskan otak tua ini...:)

    ReplyDelete
  84. heheh.. tipikal orang indonesia banget kali ya vani..:)

    ReplyDelete
  85. hahahaha.. ternyata oh ternyata....

    ReplyDelete
  86. hahaha..

    btw.. udah tau kabar blog MP mau tutup mam?

    udah back up tulisan2 mama lum?

    ReplyDelete
  87. Untung tulisan mama ga banyak, jadi dalam setengah jam dah pindah semua ke folder kompi :))

    ReplyDelete
  88. seru nih kajiannya jadi dalem ya uni...

    ReplyDelete
  89. dian back up ke komputer sebentuk cambainya mam..:)

    ReplyDelete
  90. hehehe, gak dalam banget sih nurul.. seolah2 aja..:)

    btw.. met lebaran ya...:) maaf ya uni gak konsisten nulis lagi setelah grasak grusuk MP mo ilang ini..:((

    ReplyDelete
  91. ku copas ya tulisan ini.. mantap..

    ReplyDelete
  92. makasih kabarnya ya les... *alhamdulillah... (tapi minder banget ketika lihat 24 penulis lainnya...:))

    ReplyDelete
  93. iya, sayang cak marto jadi juri. kalau saya yang jadi juri, tulisan cak marto akan jadi tulisan favorit saya mbak tin..:)

    ReplyDelete