Sunday, December 15, 2013

[Travelling Mom] Menuju Negara Serumpun Untuk Pertama Kalinya

Kali ini, rejekiku dan anak-anak adalah mengikuti suami yang ada training di Kuala Lumpur. Sesuai jadwal Ayah anak-anak, adalah tanggal 27 Oktober 2013 berangkat, dan pulang ke Indonesia kembali tanggal 31 Oktober.

Apakah aku excited? Ya, tentu. Tapi sekaligus nervous.

Dibandingkan kota Singapura yang sudah dua kali aku kunjungi, jelas menuju Kuala lumpur membuat aku kembali nervous. Ini hal yang biasa terjadi padaku ketika pertama kali mengunjungi satu negara.

Satu hal yang membuatku nervous pada negara tetangga ini adalah, apakah semua berita yang selama ini kudengar, akan terbukti?

Seperti misalnya, para penduduknya tak seramah orang Indonesia (terutama terhadap orang Indonesia)?, apakah aku akan dipanggil Indon oleh mereka, seperti berupa ejekan yang selama ini kubaca diberbagai media? Dan banyak hal-hal lain berkecamuk, termasuk pikiran jelek, jika tahu-tahu ada yang jahat memasukkan narkoba ke dalam koper atau tas-tas kami sekeluarga, lalu kami dipancung atau hukuman mati di negara sana. Hiks... benar-benar bikin nervous deh!

Belum lagi beberapa berita yang menceritakan tentang kondisi Kuala Lumpur yang sebetulnya tak beda jauh dari Jakarta, dan orang-orangnya lebih cuwek dan tak ramah. Aku sempat keder juga.

Oke, kalau di Singapura, aku faham jika mereka tak ramah. Kehidupan yang serba cepat, dan rumpun melayu yang tak kuat, bisa membuat mereka tak satu tipe dengan karakter Melayu yang cenderung ramah.

Tapi, baiklah... meski pikiran negatif bergelayut di otak. Aku tetap mencoba untuk tidak terlalu khawatir. Bagaimanapun juga, semua itu bukanlah pengalaman pribadiku.

Day One...

Kali ini, keberangkatn ke airport cenderung pagi. Jam 5 subuh, kami sudah harus meluncur bersama taksi blue bird, yang selalu kami pilih.

Untuk mengantisipasi rewelan anak-anak terutama membangunkan, memandikan dan sarapan, maka aku bersiasat.

Anak-anak sebelum tidur sudah kumandikan, sudah kupakaikan baju pergi, dan bekal sarapan sudah kusiapkan dalam tas.

Jadi, ketika taksi datang, Ayah anak-anak sigap memasukkan tas koper besar 1, koper sedang 1 dan tas punggungku 1, tas punggung Ayah 1 dan tas jinjing berisi makanan dan pakaian ganti. Kali ini aku membawa stroller baby untuk Aam. Gak mau dan kapok seperti ke Singapura, yang harus gendong dia terus..:)

Aku dengan sigap menggendong Aam dan membawanya masuk ke dalam taksi serta menunggu di sana. Ayah anak-anak lalu menggendong Billa (kedua anakku dalam keadaan masih tertidur lelap), lalu meletakkan Billa dalam taksi. Baru kemudian Ayah mengunci pintu dan segala tetek bengek pengecekan terakhir sebelum berangkat.

Kami sempat mampir ke rumah Nancy (adek Ayah anak2) untuk berpamitan dengan Acik (Papi mertua) yang sedang tinggal di sana.

Lalu meluncur ke airport. Jam 6.15 kami sudah cek in. Lalu sarapan lagi untuk Ayahnya. Jam 08.45 wib, pesawat Garudanya take off.

Alhamdulillah, kakiku menginjak Bandara Internasional Kuala Lumpur tepat pukukl 10.15 wib, atau 11.15 waktu setempat.

Kondisi airportnya sedikit crowded alias ramai, terlalu banyak toko-toko, dan sedikit membingungkan, karena ternyata lokasi pengambilan bagasi harus menggunakan monorail, lebih kurang 2 menit. Pengalaman pertama naik monorail di KL, justru adalah di airport. Jika di Singapura dalam ruangan tertutup, maka monorail di KL ini keluar gedung dan membuat kita mendapatkan pemandangan pesawat-pesawat yang sedang parkir atau bersiap take off.

Nice view, actually...:)

selalu heboh di pesawat

Selanjutnya, karena kami tak ada yang menjemput, maka Ayah anak-anak antri taksi untuk ke hotel. Mengantri sekitar 20 menitan, lalu mendapat taksi Premium. Yang sayangnya, kondisi taksi hanya menarik dari luar. Hitam dan ekslusif. Di dalamnya, gak beda jauh dari taksi yang suka nembak di airport Jakarta. :D.

Beruntung, supir taksinya ramah. Perjalanan dari airport ke KL ternyata melewati ribuan hektar perkebunan kelapa sawit. si Supir membawa taksi dengan lancar serta tak terlalu ngebut menuju Double Tree Hilton @ INtermark Mall. Untuk biaya taksi, kami dikenai 103 Ringgit Malaysia. Berdasarkan jarak dan jumlah orang.

Kamar hotelnya enak. Dan yang bikin super enak adalah, ternyata untuk anak-anak di bawah 4 tahun, laundrynya gratis tis tis .... keren kan! Baju Billa ada juga yang kumasukkan, dan tetap gak kena charge (meski Billa sudah berusia 5 tahun, tapi berhubung badannya kecil kali ya..:) jadi gak diitung juga sama pihak hotel).

Fasilitas lain, seperti craddle atau box untuk tidur bayi juga ada. Lumayan nyaman. Satu hal yang bikin berkesan adalah, welcome cookiesnya.. sedap sekaliiii. (Walhasil ketika pulang, aku beli dua kaleng cookies khas Double Tree Hilton, seharga 100 RM, dan habis dalam sebulan. taraaaa!) :)
part of the hotel 

Baiklah, kembali ke cerita travelingnya. Selesai packing, sholat zuhur langsung jamak ke ashar, aku dan keluargaku langsung melakukan kunjungan pertama ke Petronas di KLCC, tujuan utama adalah Petrosains. Ada shuttle bus dari hotel menuju ke sana dan gratis.

Sampai di KLCC, langsung menuju petrosains (info tentang museum petronas ini kudapat dari baca-baca blog), dan membayar 50 RM untuk satu paket keluarga (4 orang), kami langsung masuk.

front of petrosains 

 Aku baru ngeh setelah pulang dari KL, kalau kita sebetulnya punya juga museum science seperti ini, misalnya Science Centre di Trans Studio di Bandung atau Taman Pintar di Yogya. Sayangnya ketika aku ke Petrosains, aku belum ke Trans Studio atau mendapat info ttg Taman Pintar.

oh well, at least it is only a "robot" hehehe 

Walhasil, sepanjang menelusuri museum tersebut, aku terkagum-kagum. Namun yang bikin aku kagum adalah NASIONALISME yang sangat menguar serta kuat mempengaruhi pengunjung. Gimana tidak, ketika masuk, kami naik sebuah benda setengah bola, yang membawa kami menelusuri kegelapan, dan disambut dengan suara melayu serta gambar patriotisme dan nasionalisme seputar negara Malaysia. Aku merasa seperti menonton film nasionalis. Dan ada rasa iri serta jengkel, melihat tingginya Nasionalisme tersebut dibalut lewat science dan tehnologi.

kakak excited sekali bermain di petrosains 

Perjalanan sepanjang museum pun disukai Billa. Berkali-kali dia mengucapkan "Makasih ya Bunda... Makasih ya Ayah... Kakak suka di sini."

Begitu banyak informasi, pengetahuan dan yang pasti keramahan dan nasionalis para penjaga museumnya, asyik banget!

Aku sempat ditanyai oleh ketua panitia Science Fair (di KLCC sedang ada Science Fair juga, hari terakhir), tentang perasaanku mengunjungi Petrosains. Dan tentu aku jawab "its fun, knowledgable and really exciting!" ...bla bla bla..

Sebelum pulang, sempat foto-foto dulu di depan Petronas. Meski hanyalah sebuah gedung kembar yang bergelimang lampu, tetap saja iconiknya terasa. Hati kecilku sempat berucap, "sebetulnya Jakarta bisa bikin begini....:p"


petronas behind us 

Pulangnya kita nekad jalan kaki. Alasan pertama, emang karena gak tahu jalurnya, dan sudah larut. Taksi juga bingung nyari dimana. *penyakit turis nekad minim info. Alasan kedua, karena sepertinya cukup dekat. (mengingat kami sekeluarga demen jalan kaki juga sih...)... dan alasan ke tiga, pengen tahu, kalau malam hari gitu, aman gak ya? hihihi.

Alhamdulillah, meski kaki capek, karena sepertinya lebih dari 5 km perjalanan (atau aku salah hitung), kami sampai dengan selamat di hotel. Anak-anak kumandikan, lalu lanjut dengan tidur. Kulirik jam di hapeku, ternyata sudah mendekati jam 1 waktu setempat. :)


Day Two,...

Kegiatan pagi hingga jelang sore hari ini lebih banyak kulakukan bertiga anak-anak. Karena Ayah anak-anak sudah sibuk dengan trainingnya. Pagi ini aku ke Ampang Park Shopping Centre yang cukup dengan berjalan kaki melalui Pedestrian Junction yang menghubungkan Intermark Mall dengan Ampang Park Shopping Centre dan Stasiun Kereta Bawah Tanah.

pedestrian junction yang menghubungi lokasi hotel dengan ampang park serta stasiun kereta 


Sekedar lihat-lihat dan beli makan siang, yang alhamdulillah sangat mudah didapat, harga cukup terjangkau. Beda dengan Singapura yang sulit mencari makanan halal dan harganya yang selangit.:P

Sorenya kami berenang sekitar 1 jam, lalu pulang ke kamar hotel. Tak lama hujan gerimis turun.

Sore jelang malam, kami naik kereta ke Mesjid Jamik. Tau-tau hujan turun dengan deras. Kami berhenti dan berteduh di Mc D dulu untuk makan malam. Lalu lanjut ke Mesjid Jamik untuk sholat magrib dan isya.
Sempat berfoto-foto sebentar...

Lanjut lagi ke Pasar Seni, menuju Petaling Street.


Ini perjalanan nekad juga, karena kami perginya malam hari, dan salah ambil jalan ketika jalan kaki. Namun so far meski sempat takut, tapi tak ada masalah sama sekali, hingga sampai di kawasan Petaling Street.

Kawasan ini mengingatkanku pada pasar kaki lima Blok M. Namun pemerintah KL cukup jeli menjadikannya kawasan turis. Membuat hiasan dan peneduh (atap) agar tak kehujanan menjadi salah satu kiat dari pemerintah, sepertinya...:)

Aku dan keluarga ke sini, tujuannya hanya satu. Hendak membeli souvenir. Karena di mall, harganya mahal, maka kami cari yang di kawasan Petaling Street. Kamipun mendapatkan harga yang miring sekali, setelah melewati perdebatan dengan penjual. :) Beruntung penjualnya santun, gak mengerikan kayak mau belanja di Pasar Senen Jakarta, atau di Pasar-pasar di Medan sana! hiiiii... aku kapok kalau mau belanja sama abang atau kakak-kakak Batak! lebih banyak kena bentaknya daripada jadi belinya...:p

Selesai belanja, kami langsung pulang. Meski sempat foto-foto sedikit.

@petaling street 

Sampe di hotel, lagi-lagi larut malam. Anak-anak kumandikan, lalu kembali tidur. Kulirik lagi jam di hape, sudah lewat jam 1 dini hari waktu setempat....:D


Day Three...


Niat hati sih pengen ke Bukit Bintang, karena ada shuttle bus dari hotel ke sana. Sayangnya gak keburu, karena Ayah anak-anak baru keluar training jam 5 sore, sementara shuttle bus nya sudah tutup.

Akhirnya kami memilih untuk ke KLCC lagi. Untuk melihat taman air mancur di belakang Suria KLCC. Dan ternyata ini pilihan yang bagus!

sore hari di depan air mancur menari 
Air mancur menari dengan lampu keunguannya mulai bergerak dari jam 7 hingga puncaknya jam 8 malam. Begitu mengasyikkan.
ayah dan anak-anak bergaya sebentar 

Lagi-lagi hati kecilku berkata..."i wish Jakarta has a public area like this area... hiks... rasanya tentu menyenangkan jika di kawasan Sudirman, ada air mancur menari."

dicapture dari jendela kinokuya suria klcc 


Yup! banyak sekali turis dan para pekerja melepaskan lelah mereka di sini. Hiburannya sangat terasa, kondisi taman juga membuat tenang... sehingga penat pun hilang.

Setelah melihat Air mancur menari, kami makan di mall, yang sedang bernuansa perayaan Devawally, yang menarik juga untuk dilihat.
kakak di depan panggung perayaan devawali 

Sempat bermain dan beli 3 buku di Kinokuya KLCC, baru kemudian lanjut pulang ke hotel. Waktu menunjukkan belum jam 10 waktu setempat. Kami memilih untuk pulang, agar anak-anak juga cukup istirahatnya.


Day Four... 

Sepertinya hari ini, adalah hari silaturahim. Karena pagi hari, aku dikunjungi penulis Rena Puspa yang kemarin batal mampir, karena salah jalan. Kali ini Rena berniat menggunakan kereta, sehingga sampai dengan selamat dan cepat ke hotel Double  Tree Hilton...:)

Makasih atas pertemuan ini ya Rena. (Fotonya udah diupload di FB...:))


Siangnya, aku dijemput oleh Dek Nit (sepupu ayahnya anak-anak), untuk main ke apartemen mereka, dekat Universitas Malaya, tempat Dek Nit kerja dan sekolah doktoralnya. Aku sempat diajak melewati terowongan 9,7 km yang berfungsi sebagai jalan raya, sekaligus tempat larinya air, jika hujan deras dan gejala banjir mengintai. Kabarnya terowongan ini sudah distudi banding oleh Jokowi, untuk digunakan sebagai alternatif mengurangi banjir di Jakarta. Wallahualam...

Di apartemen Dek Nit, aku berjumpa Bu Ida (adik papi) dan anak-anak Dek Nit (Jason dan Kevin). Agak lama kemudian, menyusul Ayah anak-anak dengan Papanya Jason. ngobrol-ngobrol dan makan malam.

Jam 10an, dianter pulang oleh Dek Nit dengan mobil pribadi mereka. Makasih atas silaturahim ini yaaaa...:)

Dan Day Five... 

We're check out!

***


Beberapa catatan yang (tak) penting, yang kubuat untuk diriku sendiri, ketika mencoba membandingkan Jakarta, Singapura dan Kuala Lumpur, membuatku memperhatikan beberapa hal :

1. Masyarakat Singapura, jauh lebih cuwek. Sementara orang KL tidak secuwek mereka, dan tidak serude (sekasar) yang sering digembar-gemborkan oleh media massa Indonesia selama ini. Paling tidak itu yang kurasakan 5 hari selama di sana. Yang selama ini aku khawatirkan ternyata tak terbukti. KL cukup aman, ramah atau paling tidak, nggak kasar dan cuwek terhadap wisatawan. Mereka cukup friendly, meski memang tak terlalu sesering orang Indonesia dalam menebar senyum.

2. Selama di Singapura, aku menemukan banyak mobil mewah berseliweran. Mirip Indonesia. Berbeda dengan KL, aku jarang sekali melihat mobil mewah lewat. Jika di Singapura, rata-rata mobilnya bagus-bagus dan menengah ke atas, sementara di Indonesia (Jabodetabek) ada mobil tua sekali yang tak layak jalan, hingga yang sangat mewah seharga 10 rumah berseliweran di jalan, sementara di KL, rata-rata kendaraannya adalah kelas menengah, dan tak ada mobil buruk atau tua. Kata suamiku, ini mungkin menunjukkan, Singapura adalah negara yang ekonominya sangat baik, KL adalah contoh negara yang ekonominya stabil dan merata, sementara Jakarta adalah contoh negara yang gap atau kesenjangan ekonomi miskin dan kayanya sangat menyolok. Oh Well, bisa jadi seperti itu ya?

3. KL memiliki semangat nasionalisme yang sangat tinggi. Hampir di setiap pojok aku merasakan aura tersebut. Bahkan pakaian melayu berseliweran di perkantoran. Meski Jabodetabek juga berseliweran baju batik, namun itu lebih karena aturan, bukan karena keinginan orang Indonesia mengenakan batik untuk baju kerja mereka...:) sementara di Singapura, aku hanya merasakan "materialistis", karena semuanya adalah lampu, shopping dan semuanya mahal... :P aku tak merasakan unsur nasionalisme, namun toleransi dan tingkat penegakan hukum yang cukup baik terasa sekali di KL dan Singapura.

4. Keinginan untuk menyamankan masyarakatnya terwujud dalam transportasi massa yang relatif mendukung pengurangan macet dan penggunaan banyak kendaraan, sangat terasa di Singapura dan KL (meski di KL tak serapi di Singapura, dan sistem kereta di KL lebih mirip sistem di Guangzhou). Namun ini sangat perlu dicontoh. Entah kapan Jakarta or Indonesia kelak akan mampu membuat sistem KA bawah tanah yang baik seperti para tetangga. Karena kemacetan di Jabodetabek ini sangat luar biasa ...:(

5. Tips traveling yang akhirnya kudapat, jika keluar negeri (atau Singapura dan KL) lebih baik bawa stroller untuk anak, karena kebanyakan di sana kegiatan dilakukan dengan berjalan kaki, terutama jika, kita tak begitu berani menggunakan bus. Gunakan stroller yang bisa dilipat dan tak besar. Hingga hari ini aku masih berusaha mendikitkan (travelling light) untuk koper pakaian, meski sering kali belum berhasil. Tapi dibandingkan bertahun lalu, aku sekarang sudah mulai faham berapa banyak pakaian yang perlu dibawa jika hanya 3 hari atau 5 hari atau seminggu. Meski, kuakui, aku tak suka difoto di satu tempat dengan pakaian yang sama...:) hehehe... akibatnya memang, jika kurang dari 5 hari, maka aku akan membawa 5 stel pakaian utkku, suami dan anak2... hihihi.. Tak patut ditiru, tapi itu bagus untuk hasil foto. Karena tak nyaman juga melihat foto dengan pakaian yang sama di berbagai tempat. Ah... mungkin aku belum bisa menjadi traveler yang setengah backpackeran...hehehe


Memiliki partner (ayah anak-anak) yang juga sangat mau capek dan mengurusi anak-anak, is a must. Jadi sebagai "mom travelling" aku merasa ada teman seperjuangan. Hihihi 





4 comments:

  1. Assalammualaikum dan salam sejahera, maaf tumpang lalu bu. Jika ibu-ibu da rakan ingin berkunjung ke Kuala Lumpur, Malaysia, kami dari kembarasixteen ada menyediakan perkhidmatan kereta sewa..banyak lagi tempat-tempat menarik di kuala lumpur untuk dilewati.

    Jika berminat boleh terus lihat ke:

    http://holiday2u.wordpress.com/sewa-mobil-di-kuala-lumpur/

    Terima kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank u 4 informationnya yaaa

      Delete
  2. Salam puan. Saya cuma mahu berkongsi fakta mengapa di malaysia kebanyakannya hanya kereta kelas menengah (lebih2 lagi proton dan perodua). Ini kerana tax tinggi utk kereta/mobil import, berbanding kereta buatan malaysia. 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. salam kenal mbak

      makasih atas infonya :)

      Delete