Thursday, September 07, 2017

(Travelling Mom) Reuni Perak Yang Penuh Pelajaran Hidup










Sekitar 50 persen alumni FH Unsri  angkatan 92
bertemu dengan Dekan serta staff nya


Ini bisa jadi, ini adalah tulisan paling telat yang pernah kulakukan. Reuninya kapan, nulis di blognya juga kapan? Hehehe..

But... like wise man say... Better late than never..:)

Baiklah, meski sudah lama banget, kisah ini tertoreh dalam sejarah kehidupanku....*uhuk uhuk,.... tak ada salahnya kucoba mengenang kembali, cerita di awal tahun 2017 ini. (dibaca : Buka diary dulu)... hehehe..

Keinginan menyelenggarakan Reuni Perak ini, sudah lama mengaung di kalangan temen-temen seangkatan kuliah s1 ku. tepatnya 1-1,5 tahun lalu. Bahkan groupnya sudah dibuat, panitia (meski sempat bongkar pasang, hingga detik terakhir, akhirnya mereka yang rela berkorban secara mentallah yang menjadi panitia, dan juga materi. Terima kasih buat rombongan panitia yang termutakhir dari acara ini). 

Sempat mengalami satu fase, dimana nyaris ada pertanyaan, ini reuni jadi apa nggak ya? Biasalah, kalau udah kadung "senang banget"di awal semangat reuni, ujung-ujungnya udah kayak antiklimaks. Aku termasuk beruntung memiliki beberapa teman, yang masih komitmen dengan niat kuat Reuni. Ini soalnya hanya terjadi sekali seumur hidup. :D

Aku pribadi, sudah sejak setahun lalu menyiapkan dana pribadi untuk kebutuhan ini. Gimana tidak? Tipe Imamku adalah tipikal dimana ada istri, di situ anak dan suami kumpul. Hahaha.. Makanya, mau pulang kampung, gak serta merta berangkat begitu saja. Pertimbangan tiket pesawat dan hotel juga harus dipikirkan matang-matang. Meski ada rumah mama dan adek-adek di Palembang, tetap aku harus menggunakan fasilitas hotel, agar memudahkan segala kegiatan, yang insyaAllah dilaksanakan dalam waktu 2 hari 1 malam tersebut. 

Singkat cerita, aku sempat terpikir nyaris batal ke Palembang, karena tau-tau, suami mendapat tugas ke Beijing dan Tianjin beberapa hari sebelum keberangkatan ke Palembang. Wiiih... itu artinya, jika diijinkan suami, maka aku, mama dan anak-anak, kudu ke Palembang tanpa dia. Nanti pulang dari Beijing, dia langsung ke Palembang. Akhirnya, gitu dealnya.

Weleh... bayangin bawa mama dan dua anak aktif ke airport yang aku belum datangi (terminal 3 Soeta adalah lokasi baru buatku. Biasanya kami ke terminal 2). 
Namun, udah mendapat ijin pulang untuk reuni, ada dana untuk itu dan kesehatan yang mumpuni, membuatku tak mundur lagi. 

Palembang... here we come!

Aku terharu sekali saat menginjakkan kaki ke kampus ini lagi
terakhir aku ke sini, tahun 2010
mengurus pengunduran diriku sebagai dosen


Reuni, Day One,  25 Maret 2017

Sebenarnya, sebelum Reuni pagi itu, malam harinya, Patris, salah seorang temanku yang berprofesi Jaksa, mengundang sebagian teman-teman yang datang dari luar kota untuk ikut makan malam di Restoran Beringin. Makan malam di sini artinya, makan pempek dan variannya sepuasnya. :)

Alhamdulillah... aku suka berjumpa teman-teman yang sebagian hanya kusapa di dunia maya 10 tahun terakhir ini. Meski tak menikmati suara musik dangdut yang distel di restoran tersebut, dan juga gak tertarik untuk jogat-joget, namun aku benar-benar menyukai makanan, traktiran dan jumpa teman-teman lamanya :) 


Karangan Bunga  Reuni Perak 

Anak-anak kutitipkan pada adekku Dhika dan Endi. Alhamdulillah, mereka sudah terbiasa menjadi "baby sitter" kagetan bagi kedua anakku yang gak bisa diem itu. :) 

Gak lupa narsis depan gedung baru
FH Bukit Besar

Pagi harinya, anak-anak dijaga lagi oleh Bundi dan Padeknya. Aku pribadi, bersama teman-teman yang menginap di hotel Santika Palembang, berangkat dengan Bus yang sudah disiapkan panitia, menuju Kampus Fakultas Hukum di Bukit Besar Palembang. 

Jangan lupa baca juga : 
Menikmati Fasilitas Hotel Santika Palembang 

Its so exciting...

Aku duduk di sebelah Renni. Salah seorang pengacara ternama di kawasan Riau sana (atau Kepri?) aku lupa. Hehehe... Dulu kuliah kami beda jurusan. Tapi, sering ngobrol juga tentang hal-hal sepele. :) 

Di Kampus Bukit Besar, diadakan acara temu kangen dengan Dekan (Doktor Febrian, aku biasa manggil beliau Om Fran, karena dulu, pernah jadi pelatih Volley di belakang rumah, saat aku masih SD hingga SMP, hahaha). Juga bertemu para staf dan dosen lainnya. 

Aku sempat terharu. Cecep (Doktor Syaifuddin), temanku dari s1 dan juga s3 (dia selesai, sementara aku nggak ... *ups), menggodaku dengan kalimat..."Kenapa Dian? Nangis? Jangan Nangis, nanti aku ikutan nangis!"

Aku tak bisa menutupi rasa rinduku pada kampus itu. Kuusap airmata dan senyum malu, saat ketahuan oleh teman, kalau aku menangis.

Sejak tahun 1992 aku kuliah, dan tahun 1997 akhir, aku mengabdi menjadi dosen di sana. Cecep adalah salah seorang teman baikku selama jadi dosen. Bisa jadi, dia hanya menggodaku, tapi bisa jadi, ia memang kehilangan salah satu koleganya. Wallahualam. Kadang dengan dia ini, aku harus memastikan, kapan ia serius, dan kapan ia becanda... :) 

Silaturahim dengan Dekan dan para staf, berlangsung seru. Ada acara makan-makannya, dan yang bikin seru itu, kembali menikmati beberapa jenis makanan khas Palembang, mulai dari pindang, sambalnya yang khas hingga cemilannya. :) Alhamdulillah.


Mejeng cakep di depan Kampus Fak Hukum
Universitas Sriwijaya - Inderalaya 

Dari kampus Bukit Besar, kami kembali ke bus dan bersiap menikmati perjalanan sekitar 1 jam lebih ke kawasan kampus Inderalaya. Jadi bagi yang belum pernah ke Universitas Sriwijaya, perlu diketahui, jika kampus terbagi dua, satu di kota Palembang, adalah kampus lama, sebagian digunakan untuk S2, S3 dan kelas sore, sementara di Inderalaya (kisaran 32 km dari kota Palembang), adalah kampus yang lebih dari 20 tahun lalu mulai digunakan, untuk seluruh kegiatan civitas akademika S1 seluruh fakultas dan kejuruan. 

Kampus FH di Inderalaya, sudah pasti tutup. Karena Sabtu dan Minggu tidak ada kegiatan apapun. Kami hanya menikmati situasi dan kondisinya, sambil makan-makan. Juga bernostalgia dengan masa-masa susahnya kami dulu. 

Tidak seperti sekarang, dimana fasilitas pemondokan, kantin, perlengkapan belajar mengajar yang modern, serta transportasi yang mumpuni... kami dulu mengalami fase khawatir ngekost dekat kampus Inderalaya, karena sepinya minta ampun. Juga sulitnya transportasi, sehingga kami harus berjalan kaki berkilo-kilo meter, sebelum akhirnya ngompreng kendaraan yang lewat menuju Palembang. Subhanallah kalau ingat perjuangan naik bus ke Inderalaya yang seperti mengantar nyawa, karena berebut dan sedikitnya bus ke sana. Sudah biasa yang namanya baju sobek, tas kuliah koyak dan jatuh dari bus saat berdesakan mau masuk bus. 20an tahun lalu, semua itu membuat kami bermental baja. Sehingga saat mencari pekerjaan kami tak pernah komplain lagi dengan kondisi transportasi.

Sungguh, apa yang pahit di masa lalu itu, menjadi manis di masa sekarang. Saat menyaksikan betapa semua kesulitan masa lalu, terbayar dengan kenyamanan yang didapat sebagian besar alumni dalam mendapatkan dan menjalankan pekerjaan masing-masing. Aku menghela napas bersyukur atas pengalaman itu. 

Di belakang kami, seberang jalan dari kampus FH adalah
sebuah mushola fakultas. Yang kemarin direncanakan akan direnovasi.
Wallahualam
Kami juga menyempatkan keliling kampus, dan mejeng di logo Unsri yang kabarnya dibuat khusus, agar instagramable atau apalah-apalah. heheheh

Jangan tanya panasnya cuaca ya
Demi narsis di sini, kita bertahan lho beberapa waktu  hehehe

Menjelang ashar, kami pun kembali ke kota Palembang. Aku pribadi kembali ke kamar hotel. Tak lama setelah magrib, aku bersiap untuk mengikuti Dinner alias makan malam dan ramah tamah. Agendanya sih katanya selain makan, juga membentuk organisasi alumni FH Unsri angkatan 92 gitu. 

Kegiatan berlangsung selesai magrib hingga jam 11 malam 

Foto terakhir sebelum penutupan acara.
I love this moment so much
Thank u the commite for such lovely event.. 

Terus terang, gregetnya agak menurun saat acara makan malam ini. Model meja makan yang bunder, serta posisinya yang agak berjauhan, justru membuat kurang akrab situasinya. 

Anyway... aku nggak mau komplain apa-apa ah!. Kerja kerja panitia, apalagi sudah banyak hambatan dan tantangan sebelum acara ini dibuat, membuatku mensyukuri acara ini tetap berlangsung. Acaranya kurang lebih terdiri atas kegiatan ramah tamah, MC nya lumayan kocak, pembentukan organisasi alumni dan  ada makan-makannya donk! (sayangnya aku sedang tidak terlalu lapar, entah karena terlalu happy, atau mikirin suami udah sampe apa belum dari Beijing). Hahahha. Anak-anak memang kutitipkan lagi dengan Bundi dan Padeknya, sembari menunggu Ayah mereka pulang dari Beijing. 

Foto para anggota organisasi bersama dosen FH yang hadir malam itu
ada Doktor Firman Muntaqo dan Prof Dok. Abdullah Goffar

Acara juga ditutup dengan pembentukan ketua, wakil ketua, sekretaris dan bendahara angkatan 92. Ada Arief Nurdin sebagai ketua, Doktor Cecep sebagai Wakil, Zaldi sebagai sekretaris dan Anna Elza sebagai bendahara. Semoga apa yang sudah diniatkan, dan direncanakan hingga masuk ke dalam koran Sumsel, bisa diaplikasikan ya pak dan bu sekalian. Amiiin. 

Anyway, untuk acara dinner ini, kushare foto-fotonya aja ya. Jangan lupa dibaca captionnya :) 


Perempuan yang hadir duluan
Ki-ka : Yusmarlina, Meriyati, Renny, Anna, Samsi, Yenny dan aku


Bergaya sebelum acara dimulai
Ki-ka : Samsi, Aku, Taufik, Djoni, Alex, Bangsali, Umar, Yunita, Yenny

Say hai....:) 

Ini mataku berlinang air... bertahun gak ketemu sahabatku Lily
ki-ka : Vina, Leni, Lili, Aku dan Beka 

This woman is one of the kind
Erni Liliani. I love her story of life.
Sekarang menjadi jaksa di Sumsel :) 


Masih sempat narsis sebelum pulang
ki-ka : Anto, Imelda, Marfis, Umar, Beka, Anna, Ita, aku, Ascho dan Efran 

Weits...
kejadian langka nih,  bisa foto bareng kacab BRI Bantul :) 


Terima kasih buat Amri Andie, yang senang mendapatkan door prize dua bukuku ini
Semoga bermanfaat ya Amri :) 


Reuni, Day Two, 26 Maret 2017

Sebagian teman-teman dari luar kota, sudah kembali ke daerah masing-masing. Tapi beberapa tetap bertahan mengikuti acara reuni hari ke dua. Yakni jalan-jalan pakai kapal menelusuri sungai Musi dan ke pulau Kemaro.

Jangan diketawain ya... seumur hidup, lahir dan tua di Palembang hingga tahun 2004, ini adalah kali pertama buatku menginjakkan kaki ke Pulau Kemaro. Anak-anak tadinya mau ikut, tapi dengar pake kapal, si Sulungku menolak. Akhirnya mereka bersenang-senang dengan ayah mereka yang alhamdulillah, sampai dengan selamat semalam di hotel :) 

Pagi itu, aku tidak sarapan di hotel seperti kemarin. Desi Arisanti, sahabatku, "menculik" ku dan mengajak makan makanan khas Palembang di sebuah kawasan yang juga pertama kali kudatangi. Sejenis lorong "pajohan" atau lorong yang dipenuhi pedagang makanan khas Palembang. 

Aku bener-bener takjub. Kami sempat ke pasarnya dan belanja pempek panggang untuk oleh-oleh temen-temen di kapal "pesiar" nanti. Yup! Desi tidak bisa ikutan kegiatan reuni, jadilah ia hanya temu kangen sejenak bareng temen-temen lainnya, lalu say bye-bye. :)

Tipikal Desi banget! :) 

Foto bareng Desi Bebek *tengah
ini karena sulitnya mengajak sahabatku ini ikutan acara ini.
Bentrok dengan kegiatannya yang full sebagai notaris dan ibu satu anak
ikutan mejeng : Bangsali, Lili dan Bayu

Apa saja kegiatan kami selama di kapal menjelang ke Pulau Kemaro?
Selain ngobrol dan silaturahim, juga ada makan-makannya (lagi) dan nyanyi-nyanyi. Aku surprise banget ternyata Firmansyah yang biasa kami panggil si Awak dan istrinya Chia (juga alumni FH 92) ini ternyata gape nyanyi berdua. MasyaAllah suaranya merdu pula. hehehe. 
Meski sedikit agak pusing, karena arus sungai yang membuat kapal agak bergoyang, kucoba menikmati situasi yang ada. Minimal memperhatikan sikap tindak dan tingkah laku teman-temanku. *ini efek jelek jadi penulis. Semuanya kuperhatikan sampe detail-detail. hahaha

Si Awak memimpin lagu. Aku lupa ini pas kapan ya? Setelah atau sebelum ke pulau kemaro?

Ini di lantai 2 kapal
tempat temen-temen yang demen ngebulin asep. :) 


Foto bareng salah satu panitia inti. Rominal Zaldi, atau aku biasa panggil Zaldi
diapit oleh aku, Leni dan Ita :) 
Kegiatan selanjutnya setelah narsis di kapal, tentu saja berlanjut dengan foto-foto di pulau kemaro.

Aku menyesalkan kondisi pulau yang tidak maksimal dimanfaatkan untuk kegiatan wisata. Meski di sana ada klenteng terbesar di Palembang, tapi tetap saja, situasinya kotor dan tidak mendukung kenyamanan para wisatawan.
Sayang banget ya? Tapi apa mau dikata. Ini kabarnya, jauh lebih baik daripada 20 tahun lalu. hehehe

Ini sesaat sampai di pulau Kemaro
Minta tolong temen, fotoin berdua Ita dengan latar kisah Legenda Pulau Kemaro

Ini mah minta ampun deh para emak-emak :) 

Narsis lagi ... 

dan lagi
coba aku inget-inget dari ki-ka siapa aja ya
Ada Yusmarlina, Anita Sani, Andi Masniar, Renny, Anna, Lenny, Dini, Elvy, Vera, Vina
lalu Lili, Ita, Aku, Samsi, dan siapa dua ini ya... Yenny sama siapa ya? Beka mungkin ya?
Kacamata hitamnya membuatku agak susah mengingat...:) 


Alhamdulillah, kunjungan ini mengesankan sekali. Tidak sia-sia, aku menabung, merayu suami dan adik-adik agar mau menjaga anak-anak. Benar-benar me time yang menyegarkan sekaligus meninggalkan banyak kesan menarik di kepalaku.

Iya, tanpa sadar, banyak kejadian, kelakuan, peristiwa, omongan dan semua hal yang ada di sekitarku yang terekam, kutuliskan sebagian di diary, sebagian kusimpan dalam hati, dan sisanya kujadikan pelajaran hidup.

Banyak hal yang bisa aku dapatkan selama reuni. Tentang arogansi, tentang tawadu, tentang kerendahan hati, tentang kembalinya kisah lama, atau munculnya kisah baru, tentang komitmen, dan berhamburan ide-ide di kepala. Tapi entah mengapa, kutahan saja di sini. Di hati, kepala dan jiwa. Mungkin suatu hari, jika ada keinginan, satu momen, akan kutuliskan menjadi sebuah novel. Tentang sebuah karakter, atau banyak karakter baru, ataupun lama, yang kujumpai selama reuni.

Oh well... 

Apa yang bisa kau salahkan pada diri seorang penulis saat reuni? Ia sudah pasti akan memperhatikan sekitar dan merekamnya dengan cantik ke dalam pikiran. Hehehe...

Anyway...

I love this moment so much

Terima kasih yang khusus, kuberikan pada Alex, Patris, Zaldi, Obink, Merryieska dan Anna, atas kerja kerasnya menjadikan reuni ini tetap berlangsung. Juga buat semua-semua yang sudah membantu panitia inti kegiatan, sehingga berjalan tak meleset dari harapan. Terutama bagi aku dan beberapa teman yang datang dari jauh, serta meluangkan waktu dan uang untuk menikmati momen nostalgia ini.

Barakallah buat panitia...
Selamat berjuang kembali ke dunia nyata, buat semua teman-teman.
Aku berharap, apa yang sudah dijanjikan kepada alumni dan kampus, dapat dijadikan kisah nyata ya :)

salam, 

Dian Onasis


Sssttt...

berikut, foto-fotoku bareng beberapa teman yang sempat ku"tangkap" untuk foto berdua.


dari atas kiri ke kanan bawah
Bareng Obink, Merryieska, Renny, Yusmarlina, Yunita, Cecep, Aya sofia dan Chia


Bareng desi dan lili, bareng kak madi, ita dan lili, bareng  Awak, bareng Chia dan mery
again, baren gIta, bareng elvy, beka dan ita, bareng taufik dan terakhir sama Desi. :) 

Selama 2 hari reuni, aku bareng2 Ita nih.
Ada cerita dan kisah tersendiri kalau bareng ibu satu  ini
Senangnya, dia gak keberatan aku omelin lho...hahahah 




No comments:

Post a Comment