Sunday, March 29, 2015

(Aam) 3 Tahun Yang Seru...

Aam usia 2,5 tahun

Nama lengkapnya, Muhammad Ammar Al Mumtaz Onasis...

Tahu nggak, kenapa aku ngotot kasih nama Mumtaz...?

Karena aku bermimpi, di saat usia kandunganku masuk 6 bulan. Dalam mimpi itu aku memanggil seorang anak laki-laki kecil yang lincah ke sana ke mari, Kupanggil dia..."Hei Mumtaz!" beberapa kali.

Ketika bangun tidur, kuingat nama itu.
Ketika bisa di depan komputer kucari arti nama itu.

Kutemukan ini pada link tentang nama 

Mumtaza - bahasa Arab - untuk Perempuan - artinya Yang Paling Istimewa. Sementara ada kata Mumtaz dalam bahasa Arab juga yang berarti : Istimewa, lebih menonjol dari yang lainnya. 
Mumtaz - bahasa Spanyol - untuk laki-laki - artinya Yang Paling Pintar

Juga menemukan kalimat ini terkait kata Mumtaz di link ini : 

Arti nama mumtaz adalah menyolok, dibezakan. sangat indah.Nama mumtaz bisa digunakan untuk nama bayi laki-laki. Nama Mumtaz berasal dari bahasa benggala dengan jumlah huruf sebanyak 6 karakter dan diawali dengan huruf M.


Singkat cerita, aku jatuh cinta pada nama Mumtaz. Dan kuutak-atik nama calon anak ke-3ku ini menjadi : Muhammad Ammar Al-Mumtaz Onasis. Kata Ammar adalah permintaan dari ayahnya, yang menginginkan anaknya menjadi Pemimpin. Kata Muhammad karena mengikuti sunnah, agar bisa meniru jejak sikap Sang Rasulullah. 

Cara penulisan nama ini, mirip dengan nama Putra pertamaku, almarhum Muhammad Miftahurrahman Onasis. Kata Miftah kutemukan sebagai nama yang selevel dengan kata Salsabila, saudara kembar alm.Miftah. Salsabila berarti Mata Air Surga. Sementara Miftah berarti Kunci Pintu Surga. 

Baiklah..., *lap airmata... i miss my miftah already.... 

Mari kita kembali bercerita tentang Aam. 

Aam lahir secara caesar, di usia kandungan minggu ke 38. Itu adalah 17 hari setelah kepergian Papaku. Kisah tentang kepergian Papa yang begitu mengiris dan membuatku menjadi lemah fisik dan mental, pernah kutuliskan di blog, dengan judul Tiket Kepergian. Sehingga, yang awalnya aku berniat melahirkan secara normal, mengingat jarak kelahiran yang relatif jauh dengan kehamilan pertama, tapi ternyata aku give up, karena secara mental dan fisik, aku letih. 


Aam, si anak kangguru, selalu ikut kemanapun aku pergi

Aku baru pulang dari Singapore akhir Februari, dan mendarat di rumah sakit karena demam tinggi. Lalu awal Maret harus terbang ke Palembang, karena kepergian Papa secara mendadak. Padahal Papa sudah bersiap untuk ke Jakarta di tanggal 2 Maret tersebut, menemaniku melahirkan. 
Tanggal 6 Maret aku sudah boyong Mama ke Jakarta lagi. Dan keletihan yang teramat sangat itu, mendorongku memilih untuk menyelamatkan Aam, karena aku tak memiliki lagi tenaga untuk melahirkan secara normal. Mentalku drop, fisikku ikut KO. 

Akhirnya, lahirlah anak ke-3 ku ini, dengan suara tangisan yang kencang di RS Pondok Indah. 4 Jam kemudian, sudah dengan lahap dan pintar menyusu ASI padaku. Subhanallah, rasanya lengkap sekali karunia Allah untuk aku dan suami.

Semua berjalan menyenangkan. Aam lulus ASIX dengan sempurna. Lalu mulai mengenal makanan tambahan. Di sini kadang aku merasa kurang berhasil, karena aku jarang memberinya makanan yang buatan sendiri. Sebagian besar adalah kepingan roti dan bubur instan, sebagaimana kakaknya dulu kuperlakukan. 

Aam, tapi termasuk bayi yang memiliki banyak kemampuan yang lebih dulu dari Billa. Jika Billa, putriku baru punya gigi dan baru bisa duduk di usia 9 bulan, dan baru bisa berjalan di usia 15 bulan. Maka beda dengan Aam, yang sudah tumbuh gigi di usia 6 bulan, kemudian duduk di usia 7 bulan, hanya melewati fase merangkak sekitar 4 minggu, lalu berjalan dan berlari di usia 9-10 bulan. 


Ini adalah senyum dan tawa Aam sebelum usianya setahun.
Terlihat normal sekali

Tenaganya luar biasa kuat. Ia mampu membalikkan keranjang dan semua benda yang menarik perhatiannya. Aam tetap tertarik pada foto hingga usia 13 bulan. Dan kemudian, semuanya mulai tidak menyenangkan. 

Aam tidak mau berbicara satu katapun. Bublingnya terasa aneh di telingaku. Ia nyaris tak pernah menoleh jika dipanggil. Foto-fotonya tetap menarik perhatian, tapi ia sepertinya lebih tertarik pada benda-benda yang melingkar. Ia sanggup membalikkan sepeda roda 4 milik Kakaknya, hanya sekedar untuk memutar roda-rodanya. 

Di usianya yang ke 16 bulan, Aam belum mengucapkan satu katapun (Terlambat Berbicara). Mulai rutin memutar-mutar roda, tidak aware atau peduli siapa aku atau siapa ibunya, tidak tertarik jika dipanggil atau diajak bermain bersama, suka spinning (memutar-mutar) sendiri, berjalan dengan kaki menjinjit dan ujung-ujungnya, yang membuatku semakin khawatir adalah, Aam mulai mengumpulkan benda-benda tertentu, lalu membentuk barisan. Tanpa makna sekalipun. Semakin membuatku khawatir, ketika ia mulai tantrum dan flapping tanpa sebab khusus. Entah ia senang atau marah atau takut.

Di usianya yang ke 16 bulan, aku mengkhawatirkan ciri-ciri yang muncul. Hingga aku tertarik untuk mempelajarinya melalui media youtube, dan aku tercenung mendapati beberapa link, tentang autis dan ciri-cirinya yang mirip dengan kelakukan Aam.  Beberapa kemiripan kelakuan pada Aam, ada pada videoklip tentang autism sign and symptoms ini.  Ada banyak video dan link terkait autisme yang kupelajari. 

Kemudian, ketika ke dokter spesialis anak, spesialis tumbuh kembang, Aam didiagnosa Speech Delayed, dan direkomendasikan untuk Tes Bera (tes pendengaran) dan Konsultasi ke psikolog.
Hasil dari pemeriksaan itu, Aam dinyatakan baik pendengarannya, dan psikolog menetapkan ada diagnosa menuju autisme. Istilahnya High Functioning Autism. 

Aku rasanya mau masuk ke dalam tanah. Rasanya langit runtuh. 

Tak pernah dalam hidupku, akan berhadapan dengan diagnosa autisme pada anak yang kunantikan itu. 

Kupilih second opinion, ke dokter spesialis anak, spesialis syaraf yang juga aktif di sebuah klinik terapi untuk anak berkebutuhan khusus. Dokter ke dua ini tidak melabelisasi apapun pada Aam, tapi menyarankan terapi sensorik integrasi dan jika sudah banyak perkembangan positif, maka bisa dibarengi dengan terapi wicara. Dokter ke dua ini hanya bilang, ada masalah pada tumbuh kembang Aam, dan dapat dikejar dengan terapi yang rutin. 

Maka, sejak itu, di usianya yang baru 17 bulan, Aam menjadi pasien terapi termuda di klinik di depan Pasar Modern BSD tersebut. Terapisnya sungguh sabar dan mampu membantuku untuk bisa menstimulasi Aam. Para terapis itu menandatangani surat keterangan kesehatan aam, dengan kata "diagnosa pdd-nos" (salah satu jenis autis). Kalimat itu sering membuatku miris dan sedih. 

Aku bahkan sempat ngedrop dari segi kesehatan, nyaris jatuh semangat, setiap kali pulang dari terapi. Berbulan-bulan aku berupaya meyakini, bahwa aku bisa melewati fase ini, bahwa Aam akan berhasil menjalani terapi. Namun tetap saja, ada perasaan khawatir yang berlebihan. Akupun akhirnya terkena gejala vertigo dan keletihan yang besar.  

Pertemuanku dengan seorang dokter umum, di sebuah rumah sakit swasta dekat rumah, membuatku bangkit kembali dan bersemangat. Dokter itu cerita memiliki seorang putri dengan IQ 89 dan dia berjuang untuk memberi kepercayaan diri anak tersebut. Anak gadis yang sekarang berteman denganku di dunia maya itu berhasil menuntaskan sarjana pendidikannya dan sekarang sering mendampingi ayahnya yang dokter spesialis tumbuh kembang anak (dokter pertama yang mendiagnosa Aam speech delayed), sebagai narasumber tentang mendidik anak berkebutuhan khusus. 

Setelah menangis selama sejam di ruang praktek dokter umum itu, aku keluar dengan beban yang meringan. Semangatku naik. Dan itu berpengaruh pada diri Aam. 

Memasuki usia ke 24 bulan, kata pertama yang Aam ucapkan adalah Ayah! dan dia mulai mengenali aku sebagai Bundanya. Dan usia 24 bulan itu menjadi momen terbukanya keran kemampuan Aam. Sejak itu, berbagai kejutan diberikannya kepadaku, ayahnya dan kakaknya. 

Mulai dari kemampuan komunikasi yang sangat payah, hingga akhirnya bisa menatap mataku lebih dari 10 detik. Dari tak paham dengan namanya, hingga sekarang bisa menulis nama dan mengeja namanya dengan baik. Begitu banyak kejutan-kejutan yang diberikan oleh Aam, apalagi dia mulai diberikan terapi bicara di usia 24 bulan tersebut. Akhirnya 1 tahun lebih ia terapi, begitu banyak perkembangan positif yang kurasakan. Meski, jika dibandingkan dengan anak seusianya, Aam masih terbilang terlambat. Tapi kami berdua menjadi tim yang solid. Aam mulai mengenaliku dan kami masuk ke fase tidak mau kehilangan. Fase dimana Aam tidak mau ditinggal dan tak mempercayai orang lain. Ini juga butuh stimulasi dan terapi. 


Usia kurang lebih 2 tahun, aam mulai bisa membentuk huruf dan angka
menggunakan media apa saja.
ini adalah kumpulan patahan crayon, yang dibentuknya menjadi huruf  "J" 

Tak apa... aku mulai yakin dengan bantuan komunitas, teman-teman di dunia maya yang bersedia membagi pengalaman mereka tentang anak-anak mereka yang didiagnosa autis, terlambat bicara dan beragam diagnosa lainnya. 

Akhirnya, Aam berhenti terapi, karena terlalu sering sakit. Aam ternyata memiliki alergi yang cukup berat terhadap udara lembab. 
Kemdudian, Aam kumasukkan Paud dekat rumah. Meski hanya 1 semester, aku mulai mengenali beberapa ciri khas lain dari Aam, yang membuatku yakin, Aam bukan autis. 

Ada lompatan kognitif yang dialami oleh Aam. 

Sebelumnya, aku baru ngeh, jika pada anak, secara ringkas ada tumbuh kembang yang seharusnya dialami anak secara runut, Yakni Sensorik - Bahasa - Motorik - Kognitif - Moral. (Tulisan detail tentang ini, dapat ditemukan di artikel blog tentang Tahap Perkembangan Anak Usia Dini.) Aku sendiri menemukan istilah atau urutan itu di komunitas orang tua peduli anak gifted. 

Nah istilah anak gifted ini muncul, akibat seorang teman di dunia maya mengenalkan group itu padaku. Ia melihat postinganku tentang kemampuan Aam yang melesat setelah usianya 30 bulan. 

Aam memang terobsesi dengan puzzle sederhana berupa hurup dan angka. Di usianya ke 18 bulan, ia sudah dengan mahir memasukkan huruf-huruf tersebut di tempatnya, dan di usianya yang ke 20, ia belum bisa bicara, tapi sudah hapal huruf dan angka dengan baik. 

Puncak kenyataan, bahwa Aam bukan autis, adalah ketika ia menemukan solusi pada sebuah masalah. Ia membuat kata POCOYO menggunakan puzzle hurufnya, namun karena huruf O, hanya ada 1 huruf, maka ia membuat O yang lain menggunakan clay/playdoh, lalu menyelipkannya pada kata P C YO, menjadi POCOYO. 


Ini adalah momentum bagiku memandang Aam
ia menyelesaikan masalah ini dengan keren banget!


Dari situ, banyak teman yang menyelami masalah anak berkebutuhan khusus memberiku semangat, dan menyatakan, bahwa Aam tidak autis. 

Aku mulai mempelajari perkembangan Aam, mempelajari informasi tentang anak gifted. *ada artikel menarik yang baru kutemukan saat mencari info tentang gifted child. Aku juga bergabung dengan komunitas terkait ortu yang peduli anak gifted, yang digawangi oleh mbak Julia. (berikut salah satu artikel tulisan ttg anak gifted berdasarkan penjelasan mbak Julia yang memiliki anak gifted).

Saat ini, di usianya masuk ke 3 tahun, Aam sudah meninggalkan ciri-ciri autis, seperti flapping, skimming, menjinjit, tertarik pada roda, terlambat berbicara, tidak respon pada panggilan dan ajakan bermain. 


Aam yang sekarang adalah Aam yang sudah mulai bisa berkomunikasi dua arah, meskipun belum maksimal, sudah bisa berkata dengan 2 kata, merespon panggilan dan ajakan bermain dengan semangat, tidak pernah skimming dan tidak tertarik pada roda lagi. Ia sudah mampu mengetahui cara bermain mobil-mobilan yang tepat, mengerti semua fungsi mainannya dengan baik. 


aam dan sebagian koleksi huruf dan angkanya

Saat ini, Aam sangat terobsesi dengan alpabet dan huruf (termasuk hijaiyah dan bahasa asing). Menguasai alpabet dalam penyebutan English dan Bahasa Indonesia. Mengenal banyak huruf dan mampu spelling dengan baik (tapi harus membaca). Sudah bisa membaca, tapi tergantung moodnya. Untuk kata dengan 3-4 huruf, ia sudah bisa membaca, jika ia ingin. Aam juga malas bermain dengan teman sebayanya, apalagi jika yang diajari itu adalah sesuatu yang ia sudah mampu, seperti mengenal warna dalam dua bahasa, mengenal banyak kosa kata, dan yang sekarang lagi dinikmatinya, menjalankan program youtube dan menonton alpabet dalam bahasa Inggris dan Rusia (untuk yang terakhir ini, kadang bisa kucegah, kadang tidak. terkadang ia menyanyikan lagu dalam bahasa Rusia yang terasa aneh buat telingaku). 

Untuk permainan atau penggunaan tab dan komputer, Aam hanya diajari sekali oleh kakaknya, sisanya ia menghidupkan sendiri dan memilih sendiri program-program  yang diminatinya. Beberapa minggu yang lalu, di bulan Januari, Aam mengejutkanku dengan menulis alpabet dan huruf di atas lantai dengan menggunakan spidol. 

Sumpah! aku tidak pernah mengajarinya menulis. 
huruf A,B,C pertama yang dibuat Aam sendiri
Lembar lain, lanjutan dari huruf sebelumnya. 



Lompatan kognitif inilah yang kemudian dicurigai sebagai kemampuan Aam yang dikategorikan gifted child. Aku tidak terlalu peduli lagi dengan labelisasi yang ada. Aku hanya berdoa dan berharap, Aam bisa mengikuti tumbuh kembang dengan baik. Mungkin saja secara IQ Aam diatas rata-rata (meskipun belum pernah dites), tapi secara emosi, Aam masih harus diajari tentang sopan santun, tentang pergaulan, dan banyak hal lain terkait sosial interaksi dengan sesama anak. Keberadaan Kak Billa (kakaknya) sungguh banyak membantu. Karena Kak Billa yang memiliki masalah dengan preposisi visual ini di usia 5 tahun, tapi memiliki kemampuan berbahasa yang sangat baik, justru membantu Aam dalam bersikap. 

Untuk itu, aku bersyukur sekali, melihat perhatian Kak Billa yang besar terhadap adiknya. Kecerdasan Emosi yang dimilik Kak Billa, bisa jadi di atas normal. Ia sangat peduli dengan adiknya, serta banyak memberikan kehangata dalam berkomunikasi dan bersikap. Aku sungguh terbantu. 
Aam menjelang 3 tahun . Terlihat intens memperhatikan sesuatu
ini Aam sedang melihat cara membuat lego di salah satu toko mainan

Di usianya yang ke 3 tahun, Aam tidak aware dengan hadiah ulang tahun. 
Tapi ia sangat menyukai playdog/clay dan segera membentuk benda-benda, huruf serta angka dengan bahan tersebut. 

Aku masih terus berusaha belajar mengenal perkembangan Aam yang penuh kejutan. Berdoa semoga Aam menjadi anak yang soleh, siapa tahu kemampuannya ini, akan menolongnya menjadi orang yang sosial tinggi, besar dan hebat demi agama dan keyakinannya atas hal-hal yang disukainya. Menjadi kebanggaan orang tua, keluarga, negara dan agamanya. 

Semoga doaku pada namanya, sebagai seorang pemimpian yang istimewa, menonjol dan paling cerdas, dikabulkan Allah SWT. Amin.

Happy belated Birthday My Boy
Bunda tuliskan postingan ini, 9 hari setelah ulang tahunmu. Suatu hari, semoga Aam baca tulisan ini, dan tahu, betapa Bunda bangga memiliki anak seperti Aam dan Kak Billa. I love you son... 



Thursday, March 19, 2015

(Traveling Mom) Ke Bandung Dalam Waktu 24 Jam - Bagian II

Cerita ini adalah bagian ke 2 dari kisah ke Bandung Dalam Waktu 24 jam, yang sebelumnya aku upload beberapa hari lalu.

Sekarang, aku lanjutkan ceritanya ya...


Pagi Hari, 07 Januari 2015

Berbeda dengan kebiasaan sebelumnya, kali ini aku bangunkan anak-anak lebih pagi. Hahaha.. Bukan apa-apa, selama ini jika nginep di hotel bagus itu biasanya ngikut fasilitas kantor Ayah anak-anak. Jadi kesan gratisan yang lengket di kepala, bikin males banget bangun pagi. Sering banget, aku dan anak-anak memilih sarapan sendiri di kamar, biasanya bawa roti atau mie gelas.... qiqiqiqi. Meskipun hotel berbintang sekalipun, kecuali kalau agak lama. Kalau hanya sehari, aku biasanya milih sarapan di kamar aja. Sementara anak-anak akan kubiarkan tidur sampe jam 9 pagi...

Nah, berhubung kali ini hotelnya bayar sendiri, duuuh rugi donk kalau aku dan anak-anak gak nyobain sarapan? hehehe

Meskipun harapanku tak terlalu tinggi dengan menu sarapannya, tapi ternyata, Allah baik hati memberikan kenyataan yang menyenangkan.
Menu Aam pagi ini Susu di kamar, dan lanjut buah. 

Sementara kak Billa memilih roti panggang dengan selai coklat dan kacang.
Bukan apa-apa, selama ini, aku kalau nginep di hotel berbintang dengan menu Eropa atau Asia lainnya (bukan Indonesia pokoke) suka ilang selera.  *Dasar emang lidahnya susah sih ya?

Nah, di hotel Sensa ini, pilihannya relatif banyak, dan yang aku demen, pilihan menu makanan tradisional termasuk jajanan pasarnya ada! Yeeey...! Aku paling demen kalau ada jajanan pasar... Terus anak-anak juga ada banyak pilihan, mulai dari buah, nasi goreng, roti, bubur ayam, lontong...ah sedap banget... mana rasanya juga pas di lidahku... Untuk sarapan, aku kasih jempol 4 deh... mirip dengan sarapan di hotel satu lagi... duh apa ya... yang pernah si Ayah anak-anak training dulu itu.. *entar ditanyain lagi deh ama Ayah anak-anak.. :)



Ini salah satu sisi ruang sarapannya, bersebelahan dengan kolam renang.

Setelah selesai makan pagi, maka anak-anakpun bersegera ganti baju untuk berenang. Tapi aku sih gak yakin dengan keinginan anak-anak ini, mengingat air kolam renang di Bandung selalu bikin menggigil. Hahaha

Lihat saja reaksi Aam setelah masuk ke kolam. Ia buru-buru keluar kolam dan bersujud tidak mau masuk ke kolam lagi...Dingin soalnya.. Kalau sudah gini, jadi kangen kolam renang yang ada air panasnya ya? :)

Aku juga sempat bawa makanan sarapan ke meja dekat berenang, jadi bisa makan tambahan lagi, sambil memperhatikan anak-anak dan suami berenang. Kak Yudi dan Rafif juga ikut datang. Rafif langsung menikmati kolam renang bersama Kak Billa. 

Ini bukan sujud sholat ya... Ini sujud minta ampun gak mau masuk kolam lagi. Dingiiin : ) 
Kolam renangnya sendiri terdiri dari dua kolam. Kolam anak-anak, itu seukuran perut Kak Billa. dan kolam dewasa, seukuran 1 meteran. '
Kak Billa di kolam renang anak-anak
Ayah anak-anak, selaku mantan pelaut, gak bisa lihat airlah... Pasti berenang juga. Aku sih pengen, tapi males ganti baju...hehehe.. Jadilah ngobrol sama Kak Yudi ngalor ngidul...:D 

ayahnya naak-anak beraksi 
Oh iya, yang keren dari kolam renang dewasanya adalah, lokasinya bisa memandang kota Bandung. Kebayang gak kalau malam hari, dengan lampu dari arah kota? Atau pagi hari, dengan cuaca cerah, melihat kota dan gunung? Cakep banget kan? 

Pemandangan kota Bandung dari kolam renang.
Sungguh cakep! NIlai plus deh buat hotelnya 
Ini tampak dari sisi lain. kolam dan ruang sarapan
Untuk itu, aku juga kasih jempol deh untuk pilihan lokasi kolam renang yang bersebelahan sama ruang sarapan dan pemandangan kota Bandung. cakep abis! 

Kakak kecapekan main air, aam kecapekan lari-lari di sepanjang teras kolam renang. 
Sekitar 1,5 jam main air dan berenang, kamipun bersiap-siap untuk kegiatan berikutnya. Oh iya, aku semalam sudah ngepacking semua barang yang mau dibawa kembali pulang. Jadi setelah berenang ini, kami langsung beres-beres. Kunjungan berikutnya adalah kebun binatang Bandung yang lokasinya tak sampai 10 menit dari hotel. Ini adalah salah satu sebab lain aku memilih hotel Sensa, karena targetku memang kebun binatang. Sensasi kebun binatang selalu berpengaruh bagus untuk anak-anak. 

Oh iya, beberapa catatan terkait Hotel Sensa dari sisi kritik membangun  serta yang perlu diwaspadai menurutku, antara lain :

1. Kamar mandinya gak pake kunci booo.. Jika bareng keluarga inti kayak kami sih tak masalah. Tapi kalau bareng adek ipar, bareng teman, bareng mertua, waaaah nggak banget... Gimana rasanya kalau lagi pup atau mandi, tau-tau nongol wajah lain di depan pintu...waaaah...:D

2. Bentuk pintu yang model sliding begitu, membuat Aam senang memainkannya. Dan ia mengalami kejepit jari satu kali...hihihi.. Jadi untuk para ibu-ibu yang bawa balita atau batita super aktif kayak Aam, ya kudu lebih hati-hati ya... 

3. Kami meminta sejadah ke housekeeping, tapi ternyata lama sekali datangnya. Berkali-kali kami menelpon ke Bell boy dan front desk, gak datang-datang juga sejadahnya. Akhirnya baru datang, setelah beberapa jam. Apa nyari dulu tuh sejadah ya? :) 

4. Posisi mejanya yang unik, membuat Aam yang super aktif mondar mandir dan menjadikannya permainan sliding sendiri. Ini jadi salah satu informasi untuk para ibu yang memiliki anak tak bisa diam. Harus selalu waspada dengan kondisi mejanya yang unik tersebut. 


Menjelang Siang hari, 07 Januari 2015

Alhamdulillah, siang ini, Kak Yudi dan Rafif juga masih bersedia jadi teman, guide serta supir pribadi...ehem-ehem... bu hajjah...:D untuk mengantar kami sekeluarga ke kebun binatang.

Harga tiketnya murah meriah, hanya Rp. 20 ribu per orang, dan Kalau tidak salah Aam gratis deh. Jadi kita hanya bayar untuk 5 orang saja.
tiket masuk kebun binatang Bandung 

Aam seperti biasa, memasuki wilayah baru, adalah upaya meningkatkan kewaspadaan baginya. Hehehe.. Ia kemudian memegang tanganku sepanjang masuk ke kawasan kebun binatang. Meskipun tidak terlalu rapi, tapi kebun binatang Bandung, relatif bersih. Pilihan bermain dan melihat binatang juga lumayan. Aku bandingkan dengan beberapa kota lain, seperti Palembang misalnya, kalau tidak salah, baru-baru saja punya kebun binatang mini di kawasan Punti Kayu :D

Narsis dulu sebelum jalan-jalan dalam kebun. 
Bagiku, kebun binatang memiliki makna ganda... Di satu sisi, aku terkadang miris menyaksikan kehidupan mereka di balik kandang... Sungguh kalau dipikir-pikir, mana ada sih yang mau dikerangkeng dan ditontonin orang-orang? Tapi di sisi lain, melihat mereka lebih dekat, memberi pengetahuan baru bagi anak-anak, termasuk kita orang tua juga. Entahlah... selalu saja rasa yang muncul itu gonta-ganti gitu. Terkadang sedih lihat kondisinya, meskipun aku yakin para penjaga kebun dan pengurus binatang itu maksimal kerjanya. Tapi di sisi lain, ini kesempatan untuk mengenalkan anak-anak jenis binatang yang biasa mereka lihat di buku atau di internet.

Kak Billa sendiri girang bukan kepalang, ketika berhasil memberi makan burung langsung dari tangannya. Mengalahkan rasa takut dan ragu, serta senang berhasil memberi makan hewan, adalah sensasi sehat bagi anak-anak.

Sessi yang selalu dikenang Kak Billa.
Berani memberi makan burung kakak tua
Peace Man! :) 
Kak Billa memang penyayang binatang, berapa kali ia menginginkan punya hewan peliharaan di rumah. Tapi aku gak suka. Tanggung jawabnya besar. Saat ini saja, ada dua ekor ikan hias di rumah, yang kasih makan juga aku dan ayahnya, toh si Kakak hanya lirik-lirik aja. :)

Aam sendiri terlihat tertarik, tapi menahan antusiasnya. Genggaman tangannya padaku atau ayahnya selalu menguat, setiap kali kami mendatangi sebuah kandang hewan tertentu. Melihat buaya di balik kaca, ular, harimau dan lainnya.

Melihat buaya "darat" hehehe 
Aam malah tertarik dan minta dibeliin pistol gelembung udara dengan tema Angry Bird. hahaha, oke deh kiddo! Kalau urusan Angry Bird, susah dilawan deeeh... Meskipun itu sejenis binatang, tapi Angry Bird yang ini kan mainan? ugh,... daripada tantrum, terpaksalah dibeli mainan seharga 50 ribu itu. Untungnya bermanfaat juga buat Aam. Karena ketika Ayah, Kak Billa dan Rafif naik unta, Aam tidak terlalu tantrum atau ingin menjauh, karena ia sibuk bermain gelembung udara bersama Kak Yudi...:)



Kak Yudi dan Aam Main gelembung udara
Nah, wahana naik unta ini ada di dalam kebun binatang. Kita harus beli tiket lagi, 15 ribu rupiah satu orang. Antri beberapa saat, kemudian mereka pun naik. Sebetulnya aku kaget juga, karena Kak Billa yang minta naik unta. Selama ini ia takut terhadap ketinggian, ternyata ia mau juga.
tiket wahana naik unta 

LIhat ekspresi khawatir kak Billa dan mulutnya yg sedang ngomel
Sementara ayahnya tersenyum lebar dan Rafif tertawa girang.. 

Meskipun kata ayahnya, si Kakak sepanjang naik unta ngomel melulu dan istigfar terus, karena terkaget-kaget sama gerakan tubuh unta. Aku geli sendiri membayangkan mulut cerewet si kakak ngomelin si unta...hihihi.. Dan ternyata ia pun tak ingin naik lagi. Selesai satu putaran naik unta, ia bergegas ingin segera turun.

Kak Billa terlihat tegang... hehehe
Oh iya... selesai naik unta itu, pengunjung yang beli tiket naik unta, dapat hadiah 3 cup kecil es krim. Wiiih, mantaplah ya.... hahaha. Kak Billa langsung hilang rasa betenya, dan menghabiskan 2 cup kecil es krim, membagi Aam sedikit. dan Ayahnya manyun gak dapat bagian...hehehe

Alhamdulillah, kegiatan ke kebun binatangnya berlangsung seru. Aam terlihat paling antusias ketika melihat binatang kesukaannya. Yakni Elephant alias Gajah!

Aam dan binatang kesukaannya... 
Dia terlihat tertawa dan tak tegang lagi. Lucunya, ini adalah hewan terakhir yang kami lihat. Karena setelah melihat gajah, kamipun kembali ke hotel untuk cek out. Udara juga sudah terasa menghangat.

Setelah cek out hotel, kami pun bersiap cari makan siang. Aku menyarankan rumah makan di depan stasiun Bandung. Supaya tidak khawatir kena  macet. Akhirnya pilihanpun ke rumah makan padang sederhana. Sayangnya, rumah makan itu harganya tidak sederhana karena tidak sebanding sama rasanya. Hiks... Baru kali ini aku makan tanpa ekspresi nikmat..hahaha.. Alias makan untuk kenyang aja. Aku sampe malas mengingat jenis makanan yang kumakan siang itu. Prinsipku, yang penting si kakak dan aam sudah makan dan perut kenyang. Jadi tidak khawatir masuk angin.

Makan yang penting kenyang.. Susah emang kalau lidah sumatera...
harus bertemu dengan selera sunda...hehehe
Selesai makan, kami sempatkan sholat zuhur dan jamak ashar di mushola rumah makan tersebut. Oh iya, barang-barang kami ada di bagasi mobil kak Yudi yang sudah parkir dengan manis di halaman stasiun kereta. Jadi rumah makan tersebut memang bisa dicapai dengan jalan kaki. Hanya beberapa puluh meter dari lokasi parkir.

Kami juga sempatkan mampir ke toko oleh-oleh di sebelah rumah makan. Membeli sedikit makanan khas Bandung untuk adik-adik yang tinggalnya satu kompleks dengan perumahan kami.

Tak lama, kami pun say good bye to Kak Yudi dan Rafif. Terima kasih yang sangat banyak untuk hospitalitynya ya Kak... semoga Allah menggantikan kebaikan Kakak dengan banyak pahala. Amin.




Siang Menjelang Sore, 07 Januari 2015

Sekitar  pukul 15.30 sore, kami pun masuk ke dalam kereta. Sebelumnya sempat mampir ke mini market. Kak Billa yang sudah beli sebuah buku untuk dipakainya menggambar, di Saung Udjo kemaren. Nah ia butuh sebuah spidol untuk menulis atau menggambar.

Kondisi Kereta... Sepi... 
Kak Billa, buku dan alat gambar..:) Selalu Dimanapun dan Kapanpun 
Begitu masuk ke dalam kereta, dan ternyata kondisinya juga mirip dengan keberangkatan kami kemarin, Kak Billa segera mengeluarkan buku dan menggambar. Yup! Kak Billa langsung menggambar kereta api dan juga kebun binatang. I love when she did that..:)

Tak lama setelah menggambar, ia pun menyaksikan dan menikmati perjalanan serta pemandangan alam dari jendela kereta. Antusias bibirnya masih terus berceloteh. Mungkin 24 jam itu cukup seru baginya, sehingga mulutnya terus berkicau membahas banyak hal.

Kak Billa selesai menggambar, menikmati pemandangan.
Ini ia menyaksikan kepala kereta (lokomotif) berada di sisi lain dari arah jembatan

Tak lama kemudian, keduanya mulai tenang. Ini bertanda mereka akan merasa ngantuk. Setelah makan roti dan minum susu. Juga makan cemilan yang diberi oleh Kak Yudi, *ibu satu ini super banget... sudahlah jadi guide dan supir pribadi kita, eeeeh, sempat-sempatnya tadi malam bikin kue bolu untuk tambahan bekal kami di jalan. Sungguh luar biasa... Mana masakannya selalu enak lagi..:)

Sekali lagi makasih ya kak... sayang aku lupa motoin kue bolunya nih..:(

Selama perjalanan kali ini, aku tidak tidur. Ayah anak-anak malah memilih tidur. Ia akan bekerja kembali hari Rabu besok. :) Jadi harus menyiapkan mental lagi menghadapi hiruk pikuk kemacetan dan segala macam tanggung jawab kerjaannya. Aku memilih bermain games dan juga membaca. Sayang aku tak terlalu bisa membaca dan lihat gadget dalam kondisi kendaraan bergerak. Akhirnya aku memilih untuk memperhatikan pemandangan di luar yang sudah gelap.

Alhamdulilah, sekitar pukul 19.30 malam, kereta kami pun tiba di stasiun Gambir. Kami kemudian menyiasati kondisi. Karena kak Billa dan Aam tertidur lelap. Aku memilih menggendong Aam, mengenakan tas punggungku dan memegang sejumlah makanan oleh-oleh. Ayah Billa menggendong Kak Billa dan memakai tas punggungnya, dan 2 koper (ukuran sedang dan kecil) yang bisa ditarik bersamaan.

Tak lama kami sudah berada di dalam taksi menuju Pamulang. Kondisi lalu lintas cukup padat. Akhirnya pukul 21.30 kami tiba di rumah. Aku pribadi luar biasa capek rasanya, Tapi sepadan dengan pengalaman seru untuk Kak Billa dan Aam.

Apalagi keesokan harinya, Aku mendapati Aam melakukan sesuatu pada puzzle koleksinya.

Dan inilah cara Aam "menceritakan" pengalamannya kemarin. 
Subhanallah, ia merekam pristiwa kemarin. Ia membuat puzzelnya yang berbentuk kereta api, mengeluarkan asap berupa huruf-huruf kesukaannya... sementara gerbongnya ia buat dari puzzle mobil yang dilepas. Duh, yang begini ini  yang tak akan terulang dan mahal rasanya untuk dikenang.

Terima kasih ya Allah.. atas kesempatan dan rejeki dariMu...


***

Pengeluaran di hari ke 2 adalah

Tiket Masuk Kebun Binatang Bandung untuk 3 dewasa dan 2 anak plus 1 batita Rp 100.000
Wahana Naik Unta untuk 3 orang Rp. 45.000
Makan Siang di RM Padang Rp. 280.000
Oleh-oleh Rp. 200.000
Mainan Angry Bird Aam (ditinggal di mobil Kak Yudi) dan spidol Kak Billa Rp. 60.000
Tiket pulang 4 x Rp. 110. 000 (Total Rp. 440.000).
Taksi sampe rumah Rp. 180.000

Total pengeluaran di hari 2 (untuk akomodasi, entertainment, transportasi dan konsumsi) adalah
Rp. 1. 305.000

Jadi, kalau kutotal, pengeluaran Ayah anak-anak selama 24 jam di Bandung adalah
Rp. 2.350.000 + Rp. 1. 305.000 = Rp. 3.655.000.

Hehehe, meleset lebih 1,6  juta dari perkiraanku. Tapi kulihat Ayahnya enjoy juga. Dan pengalaman buat Kak Billa dan Aam ini in sha Allah akan menjadi kenangan tersendiri buat Kak Billa. Apalagi besoknya sekolah, tema pelajarannya adalah pengalamanku dan liburan. Waaah cocok banget kan, Kak?

Sekarang, aku terpikir untuk mulai mengajukan proposal liburan naik kereta ke Jawa Tengah nih... :)

Semoga bisa....




Catatan :

Postingan ini, terutama terkait KA, Hotel dan Tempat Makan, MURNI kutulis atas kemauanku sendiri. Tidak atas permintaan dari pihak manapun. 




Wednesday, March 11, 2015

(Traveling Mom) Ke Bandung Dalam Waktu 24 Jam - (Bagian I)


Seperti yang pernah kuceritakan beberapa waktu lalu, kalau aku ingin sekali memberikan liburan yang mengesankan untuk putriku, Kak Billa, (ada di postingan ini). Maka berikut cerita perjalanan ke Bandung menggunakan kereta api dan yang kami kerjakan selama 24 jam di sana..:)

*grind

Malam sebelum berangkat. 

Sebelum berangkat, aku mempersiapkan semua hal. Sebetulnya bukan sekali ini, kami pergi ke luar kota sekeluarga. Tapi, baru satu kali ini, kami pergi menggunakan kereta api. Kalau biasanya, menggunakan pesawat atau mobil pribadi, maka pengalaman naik kereta sekeluarga adalah pertama kalinya.

Aku tak ingin ada yang ketinggalan, atau minimal hal penting yang tertinggal. Maka untuk mengantisipasinya, kugunakan sistem mind map aja. Lucunya, waktu aku membuat mind map ini, Kak Billa juga membuat mind map versi dia. Sayangnya, aku tak menyimpan dan tak bisa menscan atau memoto mind map karya dia. :)

aku suka menggunakan Mind Map dalam menulis cerita.
Baru kali ini, Mind Map kupakai untuk persiapan liburan :)

Hal yang paling utama, dari semua itu adalah memastikan e-tiket sudah di tangan. sehingga nomor konfirmasinya bisa dicetak di stasiun Gambir nanti.


bukti pembayaran tiket lewat email.

Kak Billa terlihat sungguh excited dengan semua itu. Setelah semua isi tas seperti pakaian, susu, makanan ringan dan keperluan lainnya masuk ke dalam koper. Walhasil, kami membawa 1 tas ukuran sedang untuk pakaian kami berempat, 1 tas tarik kecil untuk keperluan susu, mainan (yg ini khusus untuk aam, mengantisipasi tantrumnya), jaket dan alat gambar Kak Billa, kemudian 1 tas punggung milikku berisi keperluanku, dan 1 tas punggung milik ayahnya anak-anak.

Sekitar pukul 11an malam, anak-anak belum ngantuk. Dan menjelang mereka tidur, aku mandikan dengan air panas, dan kukenakan baju pergi ke mereka. Prinsip ini pernah kulakukan waktu kami hendak berangkat ke Guangzhou dan Singapura. Karena kami berangkat setelah subuh. Tak mungkin lagi membangunkan dan memandikan mereka pagi hari. 



Pagi hari, 06 Januari 2015

Pukul 05.00 pagi, kami naik taksi menuju Gambir. Anak-anak masih tertidur lelap. Aku mempersiapkan susu untuk aam dan tisu basah untuk mereka. Lupakan tentang sikat gigi. :D toh anak-anak tetap lucu meskipun tidak sikat gigi...hehehe.

Alhamdulillah perjalanan relatif aman, terhindar dari kemacetan pagi. Dan pukul 06.30 kami sudah sampai di Gambir. Kulirik ayah anak-anak membayar taksi. Ups, lebih mahal dari tiket kereta api nih. Tapi berhubung berempat, jadi jatuhnya tetap murah ya. Rp. 170.000 taksi Bluebird dari rumah ke Gambir.

Sesampai di Gambir, berhubung ini pengalaman pertama, ya aku harus bertanya. Kucari lokasi Customer Service, dan beruntung ruangnya cukup nyaman, sehingga anak-anak juga relatif aman duduk di ruang tunggunya.

Seperti biasa, dalam urusan seperti ini, ayah anak-anak, mendadak tidak aktif, hehehe. Maka aku segera bertanya langkah apa yang harus aku lakukan, setelah memiliki e-tiket.

Ternyata, aku harus menyetak tiket sendiri, pada mesin CTM (bukan jenis obat alergi ya...:) ) yakni mesin Cetak Tiket Mandiri.

Hal ini menarik, karena pertama kali kulakukan. Beruntung petugasnya sigap, memberi contoh cara menggunakannya. Sisanya, aku kerjakan sendiri.

Di samping ini adalah penampakan tiket hasil cetak mandiri.

Setelah itu, aku kembali ke ruang tunggu CS, dan meminta ijin berada di sana selama setengah jam. Hal ini menghindari anak-anak berlarian di stasiun yang mulai padat.

Memiliki anak yang aktif dan tak suka diam, memang harus bisa mencari ruang tunggu yang memiliki pintu. Minimal sejam pertama di stasiun kereta, aku tak mengalami kesulitan menjaga mereka. Anak-anak sudah terbangun, sarapan dan mulai ON untuk memperhatikan sekitar. Kak Billa sudah sibuk membicarakan tentang kereta. Aam yang belum pandai berbicara, sibuk berkata "train! eta!" katanya sambil waspada mendengar gemuruh suara kereta di atas kami.

Setengah jam sebelum jadwal kereta, kami pun keluar ruang tunggu CS, naik ke atas.

Oh iya, ketika memasuki ruang tunggu kereta di atas, kita akan melewati petugas yang memeriksa tiket. Di sini dibutuhkan KTP masing-masing pemegang tiket. Kecuali untuk anak-anak.

Sesampai di atas, kami memilih duduk di salah satu kursi tunggu. Situasi sepi. Alhamdulillah, Aam sangat excited, hingga ia patuh dan waspada memperhatikan sekitarnya.

Kak Billa mengajak Aam bernyanyi lagu kereta. Dan hal seperti inilah yang ingin kuberikan pada Kak Billa dan Aam. Pengalaman dan rasa senang hendak berlibur menggunakan transportasi yang tidak biasa mereka gunakan.


Kak Billa mulai aksi deh!

Seru menyanyikan lagi kereta api berdua sambil menunggu kereta datang 

ini ayah sedang menunjukkan kereta yang baru lewat ke Aam 

Tak lama terdengar bunyi pluit atau something like that. Dan membuat kak Billa dan Aam terpukau mendengarnya.. hehehe... Kami pun bersiap mencari gerbong Eksekutif 3.

Ketika masuk, sayangnya, kondisi kereta api yang bersih itu, tetap terkesan tua. Sentuhan modern dan estetikanya sepertinya harus diupgrade. Ayah anak-anak sempat mencari tahu dan memastikan bahwa itu adalah kelas eksekutif termahal (Rp. 110 ribu per orang). Karena, menurutnya, kondisi gerbong tak sepadan dengan harga tiket yang kami beli. Ayah anak-anak sempat membandingkan dengan kereta api yang ke Cirebon yang pernah dinaikinya. Kondisinya jauh lebih bagus, itu katanya. Aku yang belum pernah naik kereta yang ke Cirebon, hanya bisa angguk-angguk saja. 

Kereta bersiap berangkat. Dan sayangnya, terlambat 30 menit dari jadwal seharusnya. Kami pun berangkat menuju Bandung, pukul 09.00 pagi.

mejeng dulu sebelum naik gerbong. 

tidak terlalu ramai, Kak Billa so excited, Aam aware..:) 

Ketika kereta mulai berjalan. 
Yang khas dari Kak Billa kalau sudah dalam perjalanan adalah, ia akan merasa lapar jika ada yang menawarinya makan. Maka ketika pramugari kereta menawari nasi goreng, maka ia memegang perutnya dan bilang "kakak lapar, bund". Hehehe

Sebetulnya aku tak tertarik membeli nasi goreng di kereta. Pengalaman, harga dan rasa tak sebanding. Dan ketika nasi goreng pesanan kakak datang, meski penampilannya menarik, ternyata rasanya ya rasa nasi goreng instan. Karena mereka memasaknya dengan bumbu instan. Kak Billa yang sedikit rewel urusan rasa ini, hanya memakan separuh dari nasi itu. Ayahnya mengambil alih, memakan dan  membersihkan nasi goreng tersebut. :)


Nasi goreng kereta api

Perjalanan menjadi semakin seru, ketika Aam mulai melakukan kegiatan rutin. Mengganggu ketenangan kakak. :)  Maka, terjadilah perang perebutan bantal. :)

Mulai rebutan bantal

Yak, terjadi penyiksaan. Jilbab Kakak diserang Aam. 
Lama-lama letih juga mereka, plus masih ngantuk pastinya. Karena bangun pagi, padahal mereka tidurnya larut. Sekitar 1,5 jam kemudian, setelah puas melihat perjalanan (salah satu yang ingin aku bagi ke Kak Billa, ya pemandangan alam kalau ke Bandung naik kereta ini), makan cemilan, becanda hingga bertengkar. Anak-anak mulai kelihatan capeknya. 

Cerita seru di perjalanan, bisa lihat sawah dan pemandangan yang tidak ada di kota

Mulai tenang nih. dan seperti biasa, aam memilih hal yang tidak biasa untuk beristirahat :) 

Penguasaan bantal yang cukup bagus. Kak Billa mulai tertidur. 


Melihat Tol Cipularang dari kejauhan. cakep juga ya. 



Siang hari, 06 Januari 2015

Perjalanan berjalan sekitar 3 jam. Seharusnya kami tiba stasiun Bandung itu kisaran pukul12.00 kurang. Sayangnya, setelah berangkatnya terlambat 30 menit, sampe stasiunnya juga terlambat 30 menit. Pihak KA memberitahu lewat pengeras suara, kalau mereka akan terlambat 30 menit hingga 45 menit. Aku kurang tahu, apakah memang biasa terlambat ya? atau jarang?

Kami sampai di stasiun jelang pukul 13.00 siang. Kami dijemput oleh Kak Yudi, sahabat ayah anak-anak, temennya waktu SMP di Belawan dulu. Kak Yudi sudah bertahun jadi warga Bandung. Biasanya kami memang sering silaturahim dengan Kak Yudi, jika main ke Bandung. Tapi ini kali pertama, Kak Yudi menjemput kami, karena kami naik kereta api.

Stasiun Bandung jauh lebih kecil dari Gambir. Tapi sama rapinya. Aku rasa lebih rapi dari stasiun kereta Kertapati Palembang atau Tanjungkarang Lampung deh, soalnya dulu ke sana (udah lama banget sih) gak serapi stasiun kereta Bandung. stasiun kereta api Malang juga gak serapi ini. Tapi gak tau sekarang ya...? Mungkin kapan-kapan mau jajal stasiun kereta ke Jawa Tengah atau Malang sekalian ya? :D
*mulai pasang rencana.. dan nabung....



Senyum manis Orang tua versus Senyum males bin ngantuk ala Anak-anak di depan Stasiun Kereta
Foto bareng kak Yudi. Best Friendnya Ayah Billa Aam. Makasih ya kak... 

Cek In Di Hotel

Terus terang, aku tak punya ekspektasi apa-apa terhadap hotel Sensa ini. Yang aku jadikan patokan adalah komentar para pengguna jasa hotel ini di Agoda.com dan beberapa link travel lainnya. Sebagian besar merekomendasikan hotel ini, karena dekat cihampelas. Kupikir, aku harus dekat dengan tempat makan, karena kalau makan di hotel pasti mahal banget. Jadi setelah mencari beberapa alternatif, (termasuk beberapa hotel yang biasanya digunakan kantor Ayah anak-anak untuk meeting dan training), aku memilih Sensa ini, karena pertimbangannya gak jauh dari stasiun kereta api dan kabarnya dekat dengan mal. 

Setelah sampai di hotelnya, baru aku ngeh. Ternyata hotel ini sebelahan dengan Ciwalk atau Cihampelas Walk. Lega banget. karena kalau mau jalan ke cihampels mudah atau mau nyari makan juga gak susah. 

Cek in sekitar pukul 14.00 dan  tidak ada masalah terkait pemesanan tiket melalui Agoda.com. Namun terlebih dahulu kita harus depositoin uang sekitar 300 ribu ke front desknya. Baru kemudian di kasih kunci kamar. Kebetulan tidak ramai pengguna hotel ini. Bisa jadi karena aku memilih hari di luar weekend ataupun peak season. Bahkan sudah menjelang habis liburan sekolah. 



Aam memperhatikan brosur spa. Posisinya tepat di samping Front dest hotel
Oh iya, lupa. Sebelum cek in, kita sempatkan dulu makan siang. Karena anak-anak sudah kelaparan. Kalau sudah gini, pilihan paling cepat ya fast food. Maka pergilah kami ke salah satu gerai fast food. Makan sekitar 45 menit. baru kemudian jalan ke hotel. 

Terima kasih banget sama Kak Yudi, karena kita jadinya hemat transportasi nih... hehehe. Kak Yudi malah nawarin untuk anterin kemanapun kami mau pergi seharian itu. Kebetulan dia dan anaknya (Rafif) sedang tidak ada kegianan. sementara dua orang anaknya yang lain sedang kuliah dan sekolah. 

ini kartu kamar. Aku termasuk suka mengoleksi kartu kamar ini.
Kartu hotel Sensa menarik, karena berwarna pink. Beda dengan bbrp kartu kamar hotel lain

Alhamdulillah, kamarnya bagus. Aku suka desain kamar hotel ini. Modern dan minimalis. Kami malah sempat foto-foto beberapa bagian kamar. Termasuk desain kaca yang menutupi kamar mandinya. Menarik. Bisa dicontek nih..:P
See how exciting Aam dan Billa are..:D

Konsep kamar mandinya cakep
Kamar mandinya juga asyik. Dan yang aku suka, nggak pelit dengan air mineral. Ada 2 botol air mineral ukuran 600 ml. di kamar mandi .

Kamar mandinya minimalis, bersih dan wangi.


Beberapa catatan terkait hotel ini yang bisa kusimpulkan, antara lain :


1. Posisi hotel dekat dengan Ciwalk. Malah pintu masuk ke ciwalk ada di posisi sebelah kiri front desk. Jadi tak perlu khawatir jika hujan, masih tetap bisa main ke Ciwalk.
Kak Billa suka sendal kamar hotelnya. Ungu :)
Tapi sendal kamar fave ku tetap dari Trans hotel. hehehe.
pemandangan dari balkon di siang hari
2. Nuansa kamar modern dan bersih. Arah pemandangannya bisa ke kota atau ke arah fly over PASUPATI
3. Memiliki balkon mungil. Yang kupakai kamarnya ke arah kota dan penggunungan.
4. Mini barnya relatif lengkap.
aku suka mengukur kualitas hotel dari minibarnya.
hotel Sensa tidak pelit dengan mini barnya.
dan perlengkapannya juga masih baru dan bagus
5. Tempat tidur nyaman. Aku memilih double bed (Superior Twin). Karena itu tawaran dari Agoda yang relatif terjangkau. :)
6. Free Wifi (ini yang OK banget...) tanpa password..:) jadi gak ribet.
7. Televisi lumayan besar, nempel di dinding.
8. AC oke. Ac juga akan mati, jika pintu balkon dibuka. Ini termasuk jenis penghematan listrik yang cakep ...
kondisi kamar. agak berantakan, karena sudah dijadikan ajang lompat
oleh aam dan billa
9. Kolam renangnya ada dua, untuk anak dan dewasa, dan bersih kolamnya ... Pemandangan dari kolam juga cakep. mana posisinya sebelah ruang makan lagi. asyik jadinya.
10. Sarapan berlangsung dari jam 6 pagi hingga 10 pagi. Aku mendapat free untuk 2 orang dan anak-anak dibawah 9 tahun, free. Nanti aku cerita detail ttg sarapan ini. Yang bikin aku semakin suka ama hotel Sensa.






Setelah sholat dan merapikan beberapa bagian dari barang yang dibawa, kami menuju target kunjungan berikutnya.

Yakni Saung Angklung Udjo. 


Angklung dan Makan Malam 

Aku tertarik memasukkan Udjo angklung ke dalam rencana perjalanan 24 jam kami di Bandung, pertama karena beberapa referensi di internet memuji hiburan di tempat ini. Uang atau tiket masuknya sepadan dengan pengalaman yang akan diterima. Selain itu, Kak Yudi juga tahu lokasinya, dan sudah lama gak ke sana juga.

Aku exciting banget ke sana. Karena ingin tahu reaksi Aam dan Billa terhadap alat tradisional ini. Apalagi di pelajaran sekolah Kak Billa, ada materi tematik tentang angklung dalam tema pengalamanku. Sungguh pas sekali.

Tiket masuknya untuk dewasa 3 orang, Rp. 180 ribu dan untuk 2 anak kecil 80 ribu, sementara batita (Aam) free of charge. 
Kami juga mendapat tanda masuk berupa kalung dengan mini angklung sebagai mata kalung. kemudian juga mendapat free minum mineral atau es krim. 

Adapun pertunjungan bambu saung angklung udjo yang kami saksikan hari itu, antara lain :

1. Demonstrasi wayang golek.
Merupakan pementasan sandiwara boneka kayu yang menyerupai badan manusia lengkap dengan konstumnya. Dulunya dipentaskan sebagai bagian upacara adat. 
adegan awal dibuka ama wayang ini.
Aam terlihat tidak antusias dan waspada. sebaliknya kak billa dan ayahnya
langsung mencari tempat duduk paling depan.
2. Helaran.
Sejenis kegiatan yang dimainkan untuk mengiringi upacara tradisional khitanan atau upacara panen padi. 

3. Tari Tradisional.
Hari itu kami hanya disuguhkan tari topeng. Dan Kak Billa menikmati sekali pertunjukan tari, apalagi para penarinya anak-anak yang besar sedikit dari dirinya. 

4. Pertunjukan angklung.
Mulai dari angklung Mini, arumba hingga angklung padaeng


anak-anak ini keren deh! menyukai alat tradisional

5. Bermain angklung bersama. 
Ini bagian yang paling aku suka. Aam juga terlihat mulai antusias dan enjoy menikmati kegiatan ini. Semua pengunjung diajari cara menggetarkan angklung serta bermain angklung bersama, dipimpin anak dari (alm) Udjo. 

Seru ketika belajar bagaimana memainkan angklung.
Udjo angklung mengemas acara ini dengan melibatkan pengunjung.
keren deh!
6. Angklung orkestra
Aku tak begitu mengikuti, karena kak Billa sibuk ngajak ke kamar mandi. cuaca dingin khas Bandung dan hujan, membuatnya jadi kebelet pipis. Sebagian besar permaian angklung yang dibuat seperti orkestra hanya bisa kunikmati separuhnya saja. 

7. Menari bersama.
ini kegiatan penutup. dan menyenangkan juga melihat semua pengunjung yang sebagian tak saling kenal, berbaur, berjoget menikmati irama angklung bersama semua anak-anak yang selesai mentas nari dan angklung.


Menjelang akhir acara, seluruh pengunjung di ajak turun dan berjoget bersama
ayah anak-anak ikutan, dan ia banyak tertawa selama kegiatan itu
hal yang jarang dilakukannya... ya.. ayah billa aam, terbilang tipe orang yang jarang tertawa...:) 
Mejeng dulu berdua aam, setelah semua kegiatan selama 2 jam selesai diikuti. 





Malam hari, 06 Januari 2015

Selesai dari Udjo angklung, kami pulang kembali ke hotel. Anak-anak mandi dan kami sholat magrib dulu. Sebelum akhirnya ke Ciwalk untuk mencari tempat makan malam.

Sebagai penggemar makanan tradisional, kemanapun aku pergi, aku mencari rumah makan yang disukai oleh semua anak-anakku. Maka jangan harap ada acara mencoba restauran ala negara A atau B dalam list rencana kegiatan bepergianku. Hehehe..

Pilihan jatuh pada rumah makan Pasar Tong-Tong.

Setelah menyicipi rasa makanannya, RM ini akan jadi tempat fave aku deh!


Ekspektasiku tak terlalu tinggi. Tapi ternyata rasa masakannya sedap juga. OK semua rasa masakan atau minuman yang kami order.


Kak Billa belum semangat makan, tapi langsung mau setelah lihat ada Sop Iga dalam menu

Ini menu pilihan bunda (Pempek) dan Aam (dimsum)

Inilah menu pilihan Ayah (Nasi campur pake rendang) dan Kak Billa (sop Iga)
Berikut list makanan yang kami pesan : 

Kue Serabi, Spesial Pempek Panggang, Dimsum Hakau, Sop Buntut, Nasi Campur Rendang, Paket MIe Goreng, Teh Tarik Panas. Dan tentu saja teh manis atau air mineral. 
Semua makanan OK banget. Bahkan aku terkesan dengan Pempeng panggangnya dengan kuah yang pedas (sebagai orang yang lahir dan besar di Palembang, aku tahu banget kuah atau cuka pempek yang enak dimakan/dihirup. dan cuka pempeng di rumah makan ini mantap!). Dan satu lagi yang aku rekomendasikan banget adalah Teh Tarik Panasnya. Asli bukan pake yang instan. Jadi enak bangeeeet. 

Alhamdulillah...

*aku lupa pesanan makanan kak Yudi dan Rafif apa ya? hehehe

Seharian perjalanan dari subuh hingga malam hari itu berjalan lancar. Terima kasih untuk Kak Yudi yang bertindak jadi teman, supir dan guide. Semoga nggak kapok ya Kak....

Niatnya sih besoknya, kami mau ke berenang dan kebun binatang. Apakah berhasil dilakukan? baca lanjutan kisahnya yaa... :) 


***

Total Pengeluaran Dari Pagi Hingga Malam : 

Taksi Rp. 170. 000
Tiket 4 x Rp. 110.000 jadinya Rp. 440.000
Jajan air mineral dan susu uht di stasiun kereta Rp. 20.000
Nasi goreng Kereta Api Rp. 30.000  
Makan siang di Mc D Kisaran Rp 150 ribuan untuk 3 paket anak-anak dan 3 paket reguler
Ke Udjo Angklung  Total Rp. 260.000 untuk 6 orang
Beli Oleh-oleh di Saung Udjo Rp 100.000 untuk buku dan gantungan kunci
Makan Malam di Pasar Tong-tong Rp. 285.000, sudah termasuk makanan yang dipesan untuk dibawa pulang dan makan untuk 3 dewasa dan 3 anak-anak
Hotel 1 malam dgn kamar Superior Twin : Rp. 893.700 (sudah termasuk pajak)

Maka total pengeluaran (transportasi+akomodasi+konsumsi+entertainment) selama seharian di Bandung adalah sekitar Rp. 2. 350.000.,

Sedikit over budget dari targetku yang bilang ke ayah Billa, kalau liburannya hanya butuh 2 juta sudah termasuk hotel. wkwkwk. Beruntung hemat di transportasi di Bandung nih, karena jasa Kak Yudi. hehehe.

*We'll see berapa pengeluaran esok hari menjelang pulang ya? :)


***

catatan :

Tulisan ini, baik terkait Mang Udjo, Hotel dan Tempat Makan, adalah MURNI dibuat atas kemaunku sendiri. Tidak ada unsur promosi atau permintaan dari pihak manapun.