Friday, July 05, 2013

Romantika Cintaku dan Dia.

Foto keluarga di studio Star PIM 


Sebelum kami berjumpa, Dia suka perempuan bermata sipit, berkulit putih dan berambut lurus.
Aku selalu memilih pria berkacamata dan bertubuh lebih tinggi dariku.
Ternyata yang dia dapatkan perempuan bermata bulat dan kabarnya tajam, berkulit gelap dan rambutnya ikal. Sementara aku, jatuh hati pada keindahan mata yang belum tertutup kaca dengan postur tubuhnya yang lebih pendek dariku.

Dia nyaris tak pernah menyela orang tua, dan nada suaranya tak pernah tinggi, apalagi jika bicara pada orangtuanya dan orangtuaku.
Sementara aku? Sering kesulitan mengontrol tone suara jika bicara pada mama papa dan suka menyela pembicaraan.
Akhirnya, dia juga bisa marah dengan suara tinggi, terutama ketika  aku tak mampu mengontrol diri. Lalu, aku? Mulai belajar merendahkan suara dan mengurangi kebiasaan memotong omongan kalau orang tua dan dia berbicara. Susah, tapi bisa.

Dia selalu mengukur semua hal dengan kepastian. Sudah jamak jika ia memasang sesuatu di dinding, maka ia menggunakan alat ukur yang memastikan semuanya lurus, seimbang dan tepat pada tempatnya.
Sementara aku? Yang terpikir, hanyalah … yang penting dipasang. Atau yang penting semua tersusun. Tak peduli ukuran, letak atau keseimbangan.

14 tahun berlalu, membuat ia masih tetap bekerja dengan caranya, namun terkadang ia harus mengakui, cara demikian cukup menghabiskan waktu. Hingga akhirnya, sekali dua kali, ia menerima kenyataan jika ada pajangan, gambar atau sesuatu yang menempel di dinding yang tak rapi, namun terpasang. 

Pola kerjanya rapi, bahkan menyusun baju di lemari dan koper untuk berpergian pun terukur.
Jangan tanya tentang aku. Biasa menulis dengan tumpukan buku di sekitar, mengambil baju dengan menarik yang aku suka serta memasukkan baju dalam koper hingga padat sepadat-padatnya.

Bertahun beradaptasi, akhirnya ia menerima fakta, ada kalanya waktu tak berpihak padanya. Karena pekerjaan sering kali membuatnya tak sempat menyusun rapi semuanya. Ia harus menelpon dari jarak jauh, memastikan koper sudah siap sebelum berangkat. Tak bisa lagi mengomel melihat tumpukan buku, kertas dan alat tulis, karena menyimpan puluhan hingga ratusan kalimat untuk buku-bukuku. Semuanya tak rapi, meski aku berusaha, jika luang, kukembalikan pada tempatnya. Meski sangat jarang itu terjadi. Namun Dia tahu, menulis adalah duniaku, sama seperti aku tahu, pergi jauh meninggalkan keluarga sudah menjadi rutinitas pekerjaannya. Jadilah, kami tak saling menuntut. 

Bahkan, tadi malam, ketika makan sepiring rujak potong di Kafe Betawi menjelang nonton Man of Steel, ia memilih buah-buah yang ia suka saja. Sementara aku, tak perduli buah apa yang kuambil dan masuk ke dalam mulutku. Baginya, ia harus menyiapkan mental untuk rasa buah yang dimakannya. Sementara bagiku, kombinasi buah-buahan yang tak terduga rasanya, memberikan sensasi dan keunikan sendiri ketika menikmati kunyahan rujak di mulutku.  
Demikian pernikahanku. Bak utara dan selatan... bak sepasang rel kereta... tak pernah sama... tapi satu arah. Tak pernah satu rasa, tapi berniat indah nan rata. 

Baru 14 tahun. Adaptasi dilakukan, tanpa pernah putus.

No comments:

Post a Comment